Masing-masing kemantren mengirimkan setidaknya 30 penari. Mereka bergantian menampilkan hasil karya wayang dengan berbagai tema. Misalnya, Bathara Wisnu oleh Kemanteren Mantrijeron, Bathara Brahma oleh Kemantren Tegalrejo, Bathara Indra oleh Kemantren Kraton dan Bathara Bayu oleh Kemantren Ngampilan.
Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X mengatakan WJNC merupakan wadah warga Kota Jogja untuk mengembangkan potensi di bidang seni dan budaya. Tak hanya itu, melalui gelaran ini pula diharapkan dapat menggeliatkan kembali sektor pariwisata dan perekonomian di Kota Jogja.
"Saya mengajak kepada seluruh elemen masyarakat Jogja tanpa terkecuali untuk lebih mencintai serta melestarikan seni dan budaya kita sendiri," jelasnya saat memberikan sambutan pada gelaran WJNC di kawasan Tugu Pal Putih, Jumat (7/10).
Penjabat Wali Kota Jogja Sumadi mengatakan WJNC menjadi acara puncak peringatan HUT ke-266 Kota Jogja. Tahun ini merupakan gelaran WJNC yang ke tujuh kalinya.
Baginya ini sekaligus menjadi momen untuk bersyukur serta bangkit usai merebaknya pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Untuk itu, tema yang diangkat pada gelaran WJNC kali ini adalah Sulih, Pulih dan Luwih.
Sulih berarti kemauan untuk senantiasa bergerak beradaptasi dengan perubahan jaman. Pulih bermakna tekad untuk bangkit kembali menjawab segala tantangan ke depan.
"Serta Luwih artinya keinginan untuk selalu menjadi lebih baik di masa mendatang," katanya.
Dia berharap, pada usia ke-266 ini masyarakat Kota Jogja dapat bersinergi. Sehingga dapat menciptakan lompatan-lompatan pembangunan.
"Inilah yang coba kita bangun bersama. Semangat untuk bangkit bersama-sama, bergotong royong membangun kembali Jogja yang Istimewa," ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News