Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tragedi Kanjuruhan Jadi Momentum Evaluasi Semua Pihak

Editor News • Selasa, 4 Oktober 2022 | 02:39 WIB
SEDIH : Media Guide BCS Aand Andrean saat ditemui di Wonorejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Senin (3/10). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
SEDIH : Media Guide BCS Aand Andrean saat ditemui di Wonorejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Senin (3/10). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Tragedi kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang beberapa lalu menjadi duka bagi dunia sepak bola Indonesia. Duka juga turut dirasakan para pendukung PSS Sleman Brigata Curva Sud (BCS).

Media Guide BCS Aand Andrean berharap kejadian ini dapat menjadi momentum semua pihak untuk melakukan pembenahan. Apalagi, beberapa waktu lalu BCS juga sempat berduka.

"Tentu kejadian kemarin harus disikapi dengan sangat serius. Banyak hal sebelum kejadian di Malang kemarin di pertandingan sepak bola menimbulkan korban. Itu menjadi catatan-catatan yang harus diperhatikan," jelasnya saat ditemui di salah satu kafe di Wonorejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Senin (3/10).

Menurutnya semua pihak patut berbenah. Hal ini demi terciptanya pertandingan sepak bola yang benar-benar bisa dinikmati tanpa adanya konflik dan kekerasan.

"Baik dari sisi penyelenggaraan, keamanan, dan banyak sekali pihak yang harus berkoordinasi," katanya.

Senada dengan Aand, CEO PSIM Bima Sinung Widagdo mengungkapkan kejadian di Kanjuruhan diharapkan menjadi momentum evaluasi. Menurutnya ini bukan lagi hanya tragedi nasional, melainkan juga internasional.

Dia mengaku telah melakukan pembicaraan dengan PT Liga Baru Indonesia sebagai operator penyelenggara Liga 1 dan Liga 2. Dia berharap gelaran Liga 2 nantinya bisa turut ditunda sementara waktu.

"Dengan alasan kemanusiaan. Ini satu peristiwa yang mengakibatkan ratusan orang meninggal. Saya rasa kok tidak pantas kalau kita tetap bermain, bertanding seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa," ujarnya.

Bima mengakui keberadaan suporter sangat penting dan merupakan bagian dari sepak bola. Rivalitas antar suporter juga dinilai perlu untuk mewarnai pertandingan sepak bola. Meski demikian, rivalitas tanpa kekerasanlah yang harus diwujudkan.

"Rivalitas itu menurut saya tetap harus (ada) karena rivalitas adalah warna dari sepakbola. Tapi kita wujudkan rivalitas yang tidak anarkis dan jauh dari kekerasan. Itu harapan saya," katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News
#Suporter sepakbola Jogjakarta #Stadion Kanjuruhan #Malang berduka #malang kelabu #Tragedi Kanjuruhan