Seperti diarasakan Titi Mulyani, 34 tahun. Di satu komunitas barista, Titi akrab dipanggil Nona Zorro. Sebutan itu muncul lantaran dia bagitu gandrung tokoh kartun bernama Zorro. Wanita kelahiran 1988 ini memutuskan fokus di dunia kopi berangkat dari rasa penasaran.
Barista berparas cantik ini belum merasa menemukan ujung pangkal sebuah seduhan kopi. Dia terjebak begitu banyaknya menu racikan kopi. Apalagi di Indonesia termasuk lumbung kopi besar. Hampir setiap daerah memiliki kopi unggulan dengan karakter rasa berbeda. Kemajemukan jenis kopi inilah membuat dirinya merasa belum khatam memahami komoditas kopi. “Semakin mempelajari kopi itu semakin misteri. Bayangkan kopi lokal aja kalau mixing jadi banyak varian rasa,” kata dia, Jumat (23/9).
Awalnya, Nona Zorro ini memposisikan diri sebagai penikmat kopi sejak 2007. Dia tidak menyangka kopi ternyata memiliki banyak jenis dan beragam cara penyajian. Sebut saja kopi arabica dan robusta. Dua jenis kopi tersebut jika di pelajari begitu banyak jenis turunan dan komposisi penyajian. “Pas aku sadar kopi itu seksi. Satu biji kopi dengan gramasi berbeda itu hasilnya lain,” terangnya.
Beranjak waktu dia mencoba bereksperimen menciptakan menu seduhan kopi sendiri. Totalitas terjun demi mengenal kopi semakin tak terbendung dengan mengikuti sertifikasi barista. Dia juga sempat menimba ilmu di beberapa coffe shop di kota-kota besar. Dan, sekarang dia fokus bekerja sebagai barista di sebuah kafe di Kebumen. “Pernah dulu open bar di Semarang. Dari situ aku belajar sampai dapat sertifikat BNSP, karena sekarang barista jadi profesi,” ucapnya.
Bagi dia, menyeduh kopi bukan sekedar skill atau kemampuan belaka. Tapi butuh banyak komponen yang harus melekat pada seorang barista. Termasuk peran perasaan ketika proses menyeduh dianggap akan mempengaruhi rasa. Artinya dari secangkir kopi yang dibuat, kondisi hati sang barista sangat menentukan kualitas rasa. “Kaya kita bikin late itu kelihatan mudah. Tapi kalau lagi badmood hasilnya beda. Jadi pas kita seduh atau menuangkan air juga harus menuangkan rasa,” ungkapnya.
Hal yang menjadi perhatian dia sampai sekarang adalah bisa melayani pembeli sembari menyampaikan pesan dan wawasan mengenai kopi. Seorang barista menurutnya harus memiliki pemahaman lebih tentang kopi. Bebeda ketika hanya sekedar melayani, justru menjadi beban karena dianggap tidak ada nilai kebanggan terhadap kopi Nusantara.
“Proses bean sampai ke penikmat itu panjang. Harus tahu kopi ditanam dimana, dipanen cara seperti apa, diroasting pake apa. Sampaikan pesan penting itu, karena bangsa kita kaya dengan kopi,” pungkasnya. (fid/bah) Editor : Editor Content