Sulastri, sang pembuat kethak mengatakan, untuk saat ini permintaan camilan ini memang paling banyak dari para penjual pasar. Biasanya para penjual itu langsung mengambil kethak dari rumahnya untuk kemudian dijual kembali. Harga per biji kethak produksinya Rp 1.000.
“Kebanyakan pembelinya memang pedagang pasar untuk dijual kembali. Tapi, terkadang juga ada pembeli yang nyari untuk hajatan dan sebagainya,” ujar Sulastri kepada Radar Jogja, Jumat (23/9).
Diungkapkan Sulastri, kethak atau tidak sedikit yang menyebut blondo, sebenarnya merupakan ampas dari pengolahan minyak kelapa. Camilan khas Padukuhan Mangiran itu memiliki rasa yang manis dan cenderung mempunyai tekstur lembut karena merupakan parutan kelapa.
Untuk proses pembuatannya, wanita 65 tahun itu mengungkapkan mirip dengan membuat wajik. Yakni mula-mula kelapa utuh dipisahkan daging dan batoknya. Daging kelapa itu kemudian diparut, lalu diperas hingga menjadi santan. Setelah menjadi santan kemudian dipanaskan dalam kompor hingga menyisakam minyak dan ampasnya.
Ampas dari minyak kelapa itulah yang menjadi bahan utama kethak. Kemudian agar berasa manis, adonan kethak dicampur dengan air rebusan gula jawa dan diaduk terus menerus sampai empat jam agar tidak gosong. Setelah tercampur rata, baru adonan kethak yang sudah tercampur gula jawa didinginkan, kemudian dikemas dalam plastik kecil.
“Untuk pembuatan kethak, biasanya saya bisa menghabiskan 530 butir kelapa per hari. Itu bisa dijadikan 27 kilogram kethak dan 42 kilogram minyak kelapa,” beber Sulastri.
Sulastri mengaku saat ini ia merupakan satu-satunya pembuat kethak di Padukuhan Mangiran. Di desanya tidak ada lagi masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat camilan manis dan enak itu. Padahal, menurutnya, prospek penjualan kethak cukup bagus dan merupakan makanan khas Mangiran.
“Saya merupakan generasi terakhir di keluarga saya yang masih membuat kethak, dengan memanfaatkan resep turun temurun,” ungkap Sulastri. (inu/laz) Editor : Editor Content