Namun, dibalik keren dan menterengnya profesi penerbang ada tanggungjawab dan beban kerja yang besar. Salah satu instruktur penerbang Kadeck Dwi I.M menjelaskan seorang penerbang harus memiliki tingkat fokus dan konsentrasi yang tinggi.
"Terbang itu tidak semudah menyopir mobil ataupun motor. Kita harus fokus. Ibaratnya tinggalkan semuanya di ujung landasan. Butuh konsentrasi tinggi dalam membawa pesawat," jelasnya saat ditemui di Bandara Adisucipto, Jumat (23/9).
Selain fokus, kunci utama lainnya untuk menjadi penerbang adalah memiliki manajemen stres yang baik. Menurutnya, tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah take off.
Berbagai kemungkinan bisa terjadi termasuk kondisi darurat. Kadeck mengaku beberapa kali menghadapi kondisi darurat seperti terjebak pada cuaca buruk.
"Instrumen saya tiba-tiba ngeblank. Saya tidak tahu posisi di pesawat seperti apa. Kita masuk dalam awan. Pas lagi genting, saya tidak tahu mengapa speednya berkurang terus. Saya bingung, semua eror, GPS eror," katanya.
Pada kondisi seperti inilah manajeman stres yang baik diperlukan. Sembari berdoa meminta keselamatan, Kadeck melihat sebotol air mineral yang berada di sampingnya.
Dia lantas memegang botol tersebut dan mendapati air di dalam botol berada dalam posisi miring. Dia seketika teringat ilmu dasar yang sebelumnya diberikan oleh instruktur.
"Karena dulu basic instruktur saya mengajarkan ketika masuk dalam bad weather bisa memanfaatkan air di dalam botol minum untuk dijadikan sebagai water pass," ujarnya.
Kadeck sempat menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AAU) selama tiga tahun dan lulus pada 2007. Karirnya sebagai seorang penerbang dimulai pada tahun 2009.
Delapan tahun berselang, dia kemudian mengikuti sekolah instruktur penerbang yang dia tempuh dalam waktu 6 bulan.
"Dulu sempat tidak boleh masuk TNI AU oleh orang tua. Alasannya takut anaknya digebukin. Tapi saya juga tidak menyangka akhirnya bisa lolos jadi penerbang di TNI AU," katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News