Executive Vice President UPT Balai Yasa Jogjakarta Eko Windu Widio Purnomo menuturkan momentum ini tergolong langka. Ini karena bengkel kereta api tidak selalu terbuka untuk umum. Sehingga dapat menjadi ajang berharga bagi masyarakat yang berminat.
"Dapat melihat langsung seluk-beluk Balai Yasa Kereta Api yang selama ini tidak dapat diakses oleh masyarakat umum. Kalau secara umum kegiatan ini adalah bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-77 KAI," jelasnya ditemui di Balai Yasa Jogjakarta, Jumat (23/9).
Eko mengakui belum semua masyarakat mengenal Balai Yasa. Dia juga sering mendengar rasa penasaran ungkapan warga yang kerap melintas di depan Balai Yasa Jogjakarta. Eko tak bisa berbuat banyak, karena memang aksesnya tidak terbuka untuk umum.
Adanya momentum ini tentunya sangatlah berharga. Tidak hanya bagi masyarakat tapi juga para pegawai Balai Yasa Jogjakarta. Terutama atas proses transfer informasi dan edukasi seluk beluk kereta api.
"Balai Yasa berperan besar dalam merawat sarana. Guna memastikan keselamatan dan kenyamanan pelanggan. Edukasi ini yang bisa terjalin dalam interaksi open house," katanya.
Balai Yasa memiliki tugas untuk melakukan perawatan besar sarana perkeretaapian. Setidaknya terbagi dalam periode 2 tahunan dan 4 tahunan. Perbaikan meliputi Sarana lokomotif, kereta penumpang, gerbong barang, dan fasilitas-fasilitas sarana lainnya.
"Sedangkan untuk perawatan rutin seperti harian, 6 bulanan, dan 1 tahunan dengan tingkat kerusakan sarana ringan dilakukan di Depo," ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo menilai open house Balai Yasa Jogjakarta dapat menjadi wisata sejarah. Tentunya ini menarik rasa penasaran para wisatawan minat khusus. Apalagi momentum kunjungan Balai Yasa memanglah langka.
Singgih mendorong adanya paket wisata Balai Yasa Jogjakarta. Dengan menyajikan pengetahuan dan seluk beluk perawatan lokomotif dan gerbong kereta. Tentunya dengan berkunjung secara langsung pada momen-momen tertentu.
"Jadi tidak hanya wisata tapi ada nilai sejarahnya. Apalagi Balai Yasa Jogjakarta ini kan memang salah satu cagar budaya," katanya.
Singgih juga berharap ada pojok khusus di Balai Yasa Jogjakarta. Berupa sebuah ruangan layaknya museum. Untuk menyajikan sejumlah pernak-pernik seputar kereta api.
"Bisa dibuatkan ruangan jadi masyarakat bisa sewaktu-waktu datang dan tidak harus menunggu momen khusus. Disatu sisi juga tidak mengganggu aktivitas rutin di Balai Yasa Jogjakarta," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News