Dukuh Salakan Kalurahan Bangunharjo Kapanewon Sewon, Bantul Ilham Gandha Irawan mengatakan, sejauh persiapan dilakukan untuk penyelenggaraan pasar rakyat sampai sekarang belum ada izin lingkungan dan keramaian. "Belum (izin), kemarin saya juga ditanya dari polsek juga belum ada izin keramaian dari polsek dan polres," katanya kepada Radar Jogja via pesan WhatsApp.
Ilham menjelaskan, izin lingkungan tersebut dari padukuhan ke kelurahan dan kapanewon. Namun sampai sekarang urung dilakukan pihak penyelenggara. "Ya masa mau makai lingkungan Padukuhan Salakan dan sudah beredar pamflet di mana-mana tapi tidak kulonuwun dulu," ujarnya.
Dia tidak menampik, memang lahan eks Kampus STIEkers saat ini dikelola Pemprov DIJ. Namun, menurutnya untuk mengadakan agenda di lahan mangkrak tersebut sejatinya pemberitahuan lebih dulu ke wilayah. "Saya masih menunggu dari pihak penyelenggaranya. Dari warga pun sebenarnya juga keberatan kalau sampai tidak ikut dilibatkan dalam agenda tersebut," tandasnya.
Warga Salakan, RT 04, Joko Mianto mengatakan, bakal kecewa manakala warga sekitar tak turut dilibatkan dalam even pasar rakyat tersebut. "Yang jelas kecewa sebagai warga sebelah kalau nggak dilibatkan. Karena kami dekat wilayahnya," katanya.
Joko memiliki usaha kecil kelontong di sekitar lahan bakal jadi venue penyelenggaraan Pasar Rakyat Gumregah 2022. Tepatnya di sebelah timur dengan lahan tersebut yang hanya berbatasan dengan pagar beton. Laki-laki 31 tahun itu mendapat informasi tersebut dari sosial media. Dan akan menyambut baik kegiatan tersebut jika dampaknya bisa dirasakan ke warga sekitar utamanya terkait efek ekonomi. "Warga cuma pengen dilibatkan tenaga, kan bisa untuk menambah kebutuhan atau keperluan hidup dan masuk kas kampung," jelasnya.
Dia berharap setidaknya, warga sekitar juga turut merasakan dampak ekonomi atas rencana pasar rakyat tersebut. Bukan hanya sekedar hiburan untuk masyarakat. Misalnya, dilibatkan bisa untuk menjaga parkir dan sebagainya. "Syukur kami bisa berjualan di dalamnya juga," tambahnya.
Warga Salakan, RT 03 Ika Apriliana mengatakan, adanya pasar rakyat diharapkan berdampak ekonomi ke warga sekitar. Terlebih bisa turut ikut serta berjualan di dalam. Namun, hingga saat ini belum ada informasi mengenai tata cara pembagian kapling lapak untuk berjualan. "Mungkin infonya itu sudah ada tapi kampung belum dilibatkan," kata pedagang warung kelontong.
Perempuan 40 tahun itu menyebut di Padukuhan Salakan terdapat 10 RT, setidaknya warga setiap RT ada dilibatkan misalnya jikapun tidak berjualan bisa mengelola parkir. Maka hasil pendapatan parkir itu bisa masuk ke kas kampung, meskipun warga juga otomatis menerima pendapatan dari bagi hasil. "Seperti dulu pas saya di Kauman itu kami dilibatkan untuk pasar malam sekaten (di Alun-alun Utara). Memang harus tetap melibatkan warga sekitar karena wilayahnya di kampung," ujarnya.
Alih-alih akan dilibatkan, informasi resmi mengenai akan adanya pasar rakyat tersebut pun belum diterimanya. Ia hanya mendengar getok tular dari masyarakat, maupun dari sosial media dan broadcast. Pasar Rakyat Gumregah 2022 memang serupa dengan pasar malam pada peringatan Sekaten di Alun-alun Utara Jogja. Pelaksanannya pun menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal 1443 H atau 7 Oktober 2022 dalam penanggalan nasional. Tapi keduanya adalah kegiatan yang berbeda.
Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Nitya Budaya Keraton Jogja GKR Bendara mengatakan pasar rakyat gumregah merupakan hal yang berbeda dengan sekaten. Istilah tersebut sudah dikoreksi bukan Pasar Malam Sekaten melainkan Pasar Rakyat Gumregah 2022. Sebab peringatan Sekaten adalah sebuah tradisi yang hanya berada di Keraton Jogja. "Jadi saya rasa itu adalah pasar rakyat. Beda, kalau pasar sekaten itu tidak ada adanya pasar rakyat dan sekaten sendiri. Jadi jangan digabungkan dalam satu kalimat," katanya ditemui disela acara vaksinasi booster dan Pasar Istimewa di Stasiun Tugu Jogja.
Ketika dikonfirmasi, panitia Pasar Rakyat Jogja Gumregah Widihasto Wasana Putra membenarkan,Sekaten tidak bisa lepas dari Keraton Jogja. Maka nama agenda tersebut sudah dikoreksi dengan nama Pasar Rakyat Jogja Gumregah (PRJG) 2022. PRJG 2022 dijadwalkan berlangsung 16 September hingga 16 Oktober."Penyelenggaraanya sudah melalui diskusi dengan Gusti (GKR) Mangkubumi, beliau juga yang menyarankan dilaksanakan di tempat ini (eks kampus STIEkers)," katanya.
Menurutnya, penyelenggaraan PRJG 2022 ini adalah sesuatu yang baru untuk mengobati kerinduan masyarakat terhadap Pasar Malam di perayaan Sekaten. Selain itu, ini adalah upaya membangkitkan gairah ekonomi masyarakat Jogjakarta pascapandemi. Ada ratusan pelaku UMKM yang akan mengisi tenan-tenan yang disediakan. Setelah melalui kurasi para pelaku UMKM ini dikelompokkan berdasarkan jenis usaha mereka. Khusus awul-awul, tidak diperbolehkan berjualan menggunakan keranjang, mereka harus mendisplay barang mereka dengan lebih rapi. "Itu pun porsinya (awul-awul) akan lebih sedikit, karena melihat pelaku UMKM kuliner di masyarakat saat ini lebih banyak," tambahnya.
Selain berusaha menata PRJG 2022 ini lebih baik dan nyaman dikunjungi, panitia juga menyiapkan panggung berukuran besar untuk pentas-pentas kesenian. Pentas seni ini dilaksakan setiap hari, masyarakat bisa mendaftarkan komunitas kesenian mereka agar bisa tampil dalam perhelatan PRJG 2022 ini. "Bisa pula perwakilan kelurahan-kelurahan seperti pentas kesenian di perayaan Sekaten yang sebelumnya di Alun-alun utara," imbuhnya. (wia/pra) Editor : Editor Content