Aji menilai sudah tidak jamannya budaya kekerasan berlanjut dalam dunia sepakbola. Fokus utama suporter adalah memberikan dukungan terhadap tim sepakbola kesayangan. Rivalitas, lanjutnya, hanya berlaku saat di dalam stadion, setelahnya tetap kedepankan persaudaraan.
"Terkait peristiwa salah seorang suporter karena habis nonton bola lalu ada kekerasan tentu menjadi perhatian kita sekalian," jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (29/8).
Diketahui bahwa kasus penganiayaan terhadap suporter bukan kali ini saja terjadi. Belum lama ini terjadi di kawasan Babarsari Sleman dengan korban Tri Fajar Firmansyah. Sosok ini meninggal dunia akibat penganiayaan pada 25 Juli 2022.
Aji juga menceritakan penganiayaan suporter pernah terjadi di Stadion Sultan Agung Bantul. Akibatnya korban atas nama Muhammad Iqbal meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi 26 Juli 2018.
"Bahwa ini bukan hanya yang pertama pernah alami juga di Sultan agung, ada sampai meninggal, ini jadi perhatian. Selama ini ada beberapa pihak terkait suporter tergabung di organisasi, saya kira teman-teman yang jadi pimpinan organisasi bisa ikut sosialisasikan," katanya.
Peran pemimpin maupun organisasi suporter, lanjutnya, sangatlah penting. Terutama dalam mengendalikan dan mengedukasi rekan sesama suporter. Untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun.
Nilai persaudaraan dan sportivitas wajib dijaga selama atau sesudah pertandingan. Tidak melakukan pencegatan terhadap suporter rival di jalan. Terutama saat berangkat atau sepulangnya dari stadion.
"Ini tentu efektif kalau dilakukan mereka sendiri. Lalu pelaksanaan pertandingan sudah antisipasi tempat duduk penonton agar tidak ada kontak langsung suporter yang beda pendapat," ujarnya.
Disatu sisi Aji juga tetap berpesan agar tetap waspada. Tidak memprovokasi suporter lawan dengan perkataan maupun tindakan. Juga memilih jalur keberangkatan maupun pulang yang sekiranya aman.
Aji tak menampik ada oknum suporter dalam setiap kelompok. Niatnya tak sekadar mendukung tim sepakbola. Adapula yang ingin melakukan tindakan anarki kepada suporter tim sepakbola lawan.
"Jangan sampai nonton baik-baik jadi korban penonton yang niatnya bikin masalah. Ini yang harus kita lakukan, petugas keamanan tidak bisa kawal sampai ke rumah, tentu banyak konsentrasi di tempat pertandingan berlangsung," katanya.
Disinggung tentang mediasi oleh Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X), Aji mematikan siap memfasilitasi. Dengan catatan konflik tidak bisa diselesaikan oleh instansi terkait di tingkat daerah.
Aji menegaskan Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini siap mendamaikan kelompok -kelompok suporter di Jogjakarta. Agar fokus dalam mendukung tim sepakbola masing-masing. Tentunya menghilangkan budaya kekerasan.
"Ngarso dalem (HB X) ngendiko kalau belum diselesaikan ditingkat bawah beliau bisa atau siap melakukan pertemuan, sosialiasi, mendamaikan dari pihak bertikai," ujarnya.
Sebelumnya, salah seorang suporter PSS Aditya Eka Putranda meninggal dunia saat perjalanan pulang usai menonton laga PSS melawan Persebaya. Sosok ini dianiaya saat berhenti di pintu perlintasan kereta di kawasan Gamping, Sleman, Sabtu (27/8). Akun ofisial PSS juga sempat menyampaikan duka.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Keluarga besar PSS Sleman mengucapkan turut berduka atas berpulangnya saudara kita, Aditya Eka Putranda. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," tulis PSS di akun Twitter, Minggu (28/8). (Dwi) Editor : Editor News