Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

HB X Resmikan Grha Keris dan Omah Wayang

Editor Content • Selasa, 23 Agustus 2022 | 14:59 WIB
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Dua bangunan di wilayah jeron beteng diresmikan sebagai Grha Keris dan Omah Wayang oleh Gubernur Hamengku Buwono (HB) X kemarin (22/8). Dua tempat ini ke depan sebagai pusat pemeliharaan dan pengembangan keris dan wayang ada di Jogjakara. Sekaligus sebagai pusat informasi seni dan budaya DIJ.

Grha Keris terletak di Ndalem Gamelan, Jalan Gamelan Kidul Nomor 1, sementara Omah Wayang ada di Jalan Langenastran Kidul Nomor 5 Kraton, Jogja. Peresmian dilakukan bersamaan. Gubernur HB X mengapresiasi pendirian Grha Keris yang keberadaannya menjadi wujud penghargaan seni budaya sekaligus sumber inspirasi nilai budaya.

Terlebih tempat itu berada di lokasi penanda sejarah yaitu Monumen Warung Sate Puas pada masa Sri Sultan HB IX saat agresi militer II, di mana terjadi bentrokan hebat para pejuang dengan pasukan Belanda ketika itu. “Saya optimistis dengan adanya Grha Keris, keberadaan warisan budaya di DIJ akan lebih maju dan berkembang,” katanya di sela peresmian.

HB X menjelaskan Grha Keris dan Omah Wayang sengaja didirikan di lokasi yang bernilai sejarah, khususnya Grha Keris di Ndalem Gamelan. Rumah Jawa itu dulu dimanfaatkan almarhum ayahnya, Sri Sultan HB IX untuk menggelar pertemuan dengan para gerilyawan pada zaman penjajahan Belanda. Di dalamnya juga terdapat kursi yang kerap digunakan Sultan HB IX saat menyusun strategi dengan para pejuang. Kursi itu juga turut dipamerkan.

“Tidak sekadar provinsi punya bangunan di sini, tapi di situ juga ada pintu hijau dulu pada waktu Belanda Clash. Di sini namanya warung sate, pertemuan almarhum ke sembilan (Sultan HB IX) dengan gerilyawan di sini. Ya di bangunan ini. Kalau masuk di sini, makannya di sini, dulu kursi yang dipakai HB IX masih ada,” ujarnya.

Grha Keris diharapkan bisa menjadi inkubator pelestarian budaya berbasis karya cipta. Semangat mempertahankan nilai historis bangunan, juga bisa merambah pada semangat pelestarian budaya lokal Jogja, khususnya wayang dan keris. “Harapan kita, keris peninggalan leluhur berada di tempat yang ada nilai historis dengan karakter kebangsaan dan karakter budaya, warisan budaya,” jelasnya.

Raja Keraton Jogja ini juga mengapresiasi pendirian Omah Wayang. Berbagai aktivitas kegiatan seni dan budaya bisa dimungkinkan dilakukan di tempat ini. Diharapkan pula masyarakat tetap bisa menghormati pada leluhur yang sudah menciptakan tuntunan, baik dalam aspek pertunjukan, filosofi, tradisi, tidak sekadar ada aktivitas saja. Melainkan bisa memiliki nilai filosofi yang melatarbelakangi.

Omah Wayang bisa hidup dan bermanfaat bagi masyarakat pecintanya. Tidak sekadar untuk aktivitas, melainkan juga dimanfaatkan untuk berdialog budaya, tukar pikiran, yang pada akhirnya bisa memperkuat karakter manusia. “Dan tetap bisa ditularkan ke anak-anak atau generasi muda, untuk mau mengerti dan memahami bagaimana manusia harus hidup dalam kehidupannya,” tandas bapak lima puteri ini.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, kedua bangunan itu juga dapat berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat yang ingin mendalami soal keris maupun wayang. “Dua rumah ini kita siapkan sebagai semacam markas atau basecamp di mana kalau orang mau mencari tahu tentang keris dan wayang, bisa langsung ke sini,” katanya.

Dian menjelasjan, rumah itu juga bisa menjadi tempat dialog bagi insan perkerisan dan wayang. “Bisa menjadi sumber informasi, khususnya keris dan wayang di DIJ. Jadi ini baru pemantik awal,” tambahnya.

Berbagai macam kegiatan terkait pengembangan dua objek dan kesenian budaya itu nantinya akan digelar di Omah Wayang maupun Graha Keris. Seperti workshop, diskusi, pelatihan, hingga pertunjukan seni skala kecil.

Disbud DIJ pun akan melakukan pengadaan fasilitas secara bertahap. Misalnya ruang audiovisual dan pengarsipan. “Jadi ada pentas kecil atau semacam kursus singkat akan kita coba selenggarakan di sini. Sekaligus jadi tempat kumpul semua pandemen yang tertarik dengan keris dan wayang. Jadi nanti ada event secara rutin,” ungkapnya.

Sementara Ketua Umum Paheman Memetri Wesi Aji (Pametri) Wiji KRT Puspodiningrat mengapresiasi dibukanya Grha Keris. Dia berharap keris yang sudah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dapat semakin dikenal luas oleh masyarakat pasca didirikannya Grha Keris ini.

“Sehingga masyarakat bisa mengenal warisan nenek moyang kita dengan baik dan benar. Yang benar dan proporsional, artinya tidak sebagai benda yang mistis atau syirik tapi sebagai benda warisan budaya,” katanya.

Dalam pembukaan Grha Keris, pihaknya juga turut menyelenggarakan pameran dengan menampilkan puluhan koleksi keris dari zaman Sultan HB I hingga VIII. “Masing-masing era punya ciri khas sendiri. Misalnya HB I itu bentuknya seperti era Pajajaran dan Mataram. Jadi gabungan antara dua era itu,” ujarnya. (wia/laz) Editor : Editor Content
#Omah Wayang #Grha Keris