Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bahaya jika Asal Pasang dan Bahan Murahan

Editor Content • Sabtu, 13 Agustus 2022 | 15:12 WIB
drg Yulianto Nugroho Pene.(Dok Pribadi)
drg Yulianto Nugroho Pene.(Dok Pribadi)
RADAR JOGJA - Veneer gigi belakangan menjadi tren yang digandrungi, terutama oleh kaum hawa. Veneer gigi adalah melapisi gigi dengan cangkang yang dibuat menyerupai bentuk gigi, sehingga mengurangi kekurangan pada gigi.

“Sebenarnya bagian dari restorasi itu kan mengembalikan fungsi gigi seperti semula. Entah karena gigi sudah rusak atau secara fungsional sudah tidak baik,” ujar drg Yulianto Nugroho Pene kepada Radar Jogja kemarin (11/8).

Bahan dasar cangkang biasanya terbuat dari porselen atau berbahan komposit. Harganya pun bervariasi, tergantung bahan dan kompetensi dokter yang menangani.

Dokter di Klinik Aira Dental ini mengatakan, ada beberapa fungsi gigi yang utama. Yakni berfungsi untuk membantu pencernaan, berbicara, dan fungsi estetik. Veneer seharusnya dibuat untuk membantu menyempurnakan ketiga fungsi itu. Namun tren yang terjadi saat ini, mayoritas untuk fungsi estetika dan keindahan semata.

“Cuma sekarang trennya lifestyle lebih ke arah fashion mulai bergeser. Fungsi giginya masih oke, tapi secara estetik kurang puas jadi gitu,” jelasnya.

Alhasil orang yang mengikuti tren tidak sedikit yang asal-asalan dalam membuat veneer. Asal mengikuti tren terkini, bahan utama dan kompetensi pemasang malah terabaikan. Padahal kisaran pembuatan veneer gigi sekitar Rp 3 juta-Rp 5 juta per gigi. “Sebenarnya yang bener harganya gak murah. Kisarannya tergantung bahan dan kompetensi dokter,” tambahnya.

Hanya karena tergoda tren public figure dan mementingkan faktor keindahan, akhirnya banyak yang terjerumus. Masalah mulut bermunculan dan malah merugikan. “Banyak kok yang datang ke dokter gigi pas udah hancur giginya, bengkak gusinya karena pemasangan yang salah. Karena tergoda estetiknya tadi, jadi banyak orang yang gak punya kompetensi mau pasang dan akhirnya jadi masalah,” tandasnya.

Mayoritas pengguna veneer ada pada rentang usia 20 hingga 40-an tahun. Menurut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM ini, tren veneer bakal tetap ada selama public figure masih menggunakan. Biasanya polanya seperti itu.

Berbeda dengan pemasangan behel atau kawat gigi yang untuk perawatan jangka panjang. “Semua kayak ngikutin public figure lagi, apa nih. Diikuti yang di bawah. Veneer juga, selama public figure masih berlomba-lomba maka masih tren,” jelasnya. (lan/laz) Editor : Editor Content
#Jogja