Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Surani, Menjaga Eksistensi Kain Jumputan

Editor Content • Selasa, 9 Agustus 2022 | 17:53 WIB
BERTAHAN: Surani merapikan kain jumputan selesai pewarnaan di rumahnya, Kampung Tahunan, Umbulharjo, Kota Jogja (8/8).(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )
BERTAHAN: Surani merapikan kain jumputan selesai pewarnaan di rumahnya, Kampung Tahunan, Umbulharjo, Kota Jogja (8/8).(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA - Eksistensi batik jumputan mengalami kemerosotan tajam selama pandemi Covid-19. Namun para perajinnya, sebagai pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), terus berupaya menggeliat. Bahkan, mereka tetap bersyukur, meskipun pendapatannya terbilang kecil.

Surani, Pendiri Sanggar Jumputan Maharani mengaku hampir tidak miliki pemasukan sejak Maret 2020 sampai Februari 2022. Sebab kain produksinya hanya laku satu atau helai saja dalam sebulan. "Saya itu plot tabungan saya jadi tiga. Itu sampai habis semua," beber Rani, sapaan akrabnya, ditemui Radar Jogja di rumahnya, Kampung Tahunan, Umbulharjo, Kota Jogja kemarin (8/8).

Namun, keterpurukan ekonomi yang menimpanya itu, tidak menghentikan Rani berproduksi. Perempuan 47 tahun ini memutar otak untuk tetap memberdayakan warga di sekitarnya. Dia sadar, tetap ada perut-perut yang harus diisi, meski keadaan sulit. Mereka adalah 50 perajin yang dia berdayakan, kendati kini tinggal bertahan tujuh orang.

Oleh sebab itu, Rani membuat banyak motif rumit. Mengingat penjualan sangat minim. Sehingga pekerja tidak dituntut target. Selain itu, kain dapat disimpan dengan harapan nantinya dapat terjual berharga lebih tinggi. Diakui Rani, dia mulai kembali ada arus penjualan yang disyukurinya. Kendati pendapatannya masih jauh dari sebelum pandemi. "Dulu itu, paling minim dalam sehari pasti terjual Rp 2,5 juta. Sekarang bisa terjual Rp 1,5 juta per bulan sudah disyukuri,’’ sebutnya.

Rani memaknai situasi ini dengan rasa syukur. Mengingat dia mulai usaha hanya bermodal Rp 200 ribu dan dua lembar kain mori. "Sekarang sudah lumayan, sudah mulai ada tanda-tanda kehidupan," ujarnya.

Perempuan yang memulai usaha sejak awal 2011 ini pun menyatakan, pelaku UMKM di Kota Jogja memiliki semangat tinggi. Dia mencontohkan salah satu temannya yang merupakan pengusaha perak. Temannya itu tidak malu untuk beralih jualan bawang merah sampai petai. "Asik kan. Jogja itu mudah bangkit. Beda dengan wilayah lain. Karena UMKM memiliki semangat tinggi," cetusnya.

Pandemi juga disyukuri Rani, lantaran membuka pengetahuannya pada penjualan online. Kini, dia kerap mengunggah aktivitas penjualan produk jumputannya melalui Instagram, Facebook, dan Tiktok. "Ternyata, ini disambut baik loh sama pembeli. Bagi mereka sebuah kebanggaan, fotonya masuk ke media sosial kami," lontarnya.

Penjabat (Pj) Wali Kota Jogja Sumadi menyebut, UMKM merupakan salah saru potensi di Kota Gudeg. Keberadaan UMKM membantu pertumbuhan ekonomi selama pandemi. Daerah lain pertumbuhan ekonominya minus akibat pandemi. “Alhamdulillah, Jogjakarta jadi satu-satunya daerah yang ketika pandemi, pertumbuhannya positif 4,16. Karena tidak hanya njagani wisata saja, tapi juga menumbuhkan UMKM," tandasnya. (fat/din) Editor : Editor Content
#UMKM #Jogja