MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja
Wajah perempuan yang akrab disapa Tika ini tak pernah lepas dari senyum semringah. Keinginannya untuk bisa kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pun akhirnya terwujud. Tepatnya di Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi.
Ya, Tika sempat berkecil hati untuk kembali melanjutkan kuliah. Latar belakang perekonomian keluarga, menjadi pertimbangan tersendiri. Maklum, Tika tak ingin kuliahnya kelak menjadi beban bagi orang tua. “ Saya sengaja merahasiakan dari orang tua tentang keingin kuliah,” ujar alumnus SMAN 2 Wates Kulonprgo.
Apalagi, selama mendaftarkan diri melalui program Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) UNY, ia pun selalu kepikiran tentang persaingan untuk bisa mendapatkan beasiswa.
Dia menilai banyak pendaftar lain yang bernasib sama dengan dirinya, dari keluarga tidak mampu. Sehingga peluang mendapatkan KIP dirasa cukup sulit. Sehingga, yang dapat dilakukan hanyalah usaha dan doa.
Apa yang menjadi keinginan pun akhirnya terwujud. Tika secara resmi diterima di kampus yang diidam-idamkan. Kebahagian pun semakin memuncak saat dia mengetahui namanya masuk sebagai mahasiswa penerima KIP dari pemerintah. "Alhamdulillah, saya bisa studi lanjut, semua dimudahkan," ucap Tika penuh syukur.
Keberhasilannya bisa kuliah di negeri dan mendapatkan bantuan dari pemerintah, kata Tika sebagai hadiah yang dipersembahkan kepada orang tua. Apalagi selama ini dia merahasiakan usahanya untuk bersaing kuliah di kampus negeri. Dia khawatir, karena persoalan ekonomi usahanya untuk berkuliah lagi terhalang. “Seandainya tidak bisa mendapatkan beasiswa KIP, mungkin kuliah jadi pupus,” ujar perempuan yang bercita-cita menjadi guru.
Warga Kulur, Temon, Kulonprogo tersebut menceritakan, pada awal SMA sudah mengincar jalur SNMPTN sebagai sarana studi lanjut. Sehingga dia berupaya keras mempertahankan nilai rapotnya. Bukan hanya bidang yang diaminati saja. Hampir semua mata pelajaran nilainya memuaskan. Bahasa Indonesia, matematika, ekonomi, sejarah dan geografi paling unggul.
Bukan hanya berpatok pada nilai. Tak ayal, ia juga mempelajari strategi menembus SNMPTN. Dia tak malu bertanya kepada kakak tingkatnya yang berpengalaman. “Juga selalu mencari informasi tentang beasiswa KIP,” ungkapnya.
Mengetahui anaknya lolos SNMPTN dengan beasiswa, tangis pasangan suami istri Nowo Ongkoputro Meidi Haribowo dan Sumilah pecah. Mereka dibuat haru sekaligus bangga terhadap keberhasilan putrinya itu. Ayahnya, Nowo mengaku sempat terbesit menguliahkan anaknya. Hanya biayanya hendak ditanggungkan oleh neneknya. "Kalau saya sendiri juga berpikir kembali apabila akan menguliahkan Tika, karena berat secara ekonomi” kata Nowo.
Sumilah mengisahkan, putri sulungnya itu merupakan sosok mandiri. Dia dapat memendam keinginannya hanya karena tak ingin membebani orang lain. Oleh sebab itu, anaknya terus berjuang, pantang menyerah mewujudkan keinginannya.
Sumilah yang diam-diam memperhatikan gelagat putri sulungnya ini. Dia pun hanya bisa mendoakan kelak putrinya menjadi orang yang sukses. Terlebih, setelah berjalannya perkuliahan, Tika pun berhasil meraih indeks prestasi kumulatif 3,58. "Semoga, ke depannya apa yang dicita-citakan diberikan kelancaran," imbuhnya. (bah) Editor : Editor Content