Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tanpa Mubeng Beteng, 1 Sura Keraton Jogjakarta tetap Khidmat 

Editor News • Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:41 WIB
KHUSYUK : Para abdi dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat khusyuk menggelar doa bersama di Bangsal Pancaniti, Jumat malam (29/7). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
KHUSYUK : Para abdi dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat khusyuk menggelar doa bersama di Bangsal Pancaniti, Jumat malam (29/7). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Perayaaan pergantian Tahun Baru Jawa 1 Sura Ehe 1955/1 Muharram 1444 H di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat masih tanpa ritual mubeng beteng. Pertimbangannya adalah situasi pandemi Covid-19 yang belum melandai. Sebagai gantinya digelar doa bersama di Bangsal Pancaniti, Jumat malam (29/7).

Penghageng Urusan Keprajan Kawedanan Parentah Hageng Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Wijaya Pamungkas memastikan tak ada esensi yang hilang. Doa bersama, lanjutnya, juga wujud introspeksi diri. Sama halnya tapa bisu saat melakoni mubeng beteng.

"Pada tahun ini semestinya prosesinya kita lakukan adalah mubeng beteng tapi karena situasi pandemi yang saat ini belum juga usai ternyata masih perlu perhatian. Maka demi kesehatan dan keamanan peserta kita adakan umbul doa atau doa bersama di bangsal Pancaniti," jelasnya ditemui di Bangsal Pancaniti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Jumat malam (29/7).

Proses lampah mubeng beteng sendiri identik dengan malam 1 Sura. Masyarakat Jogjakarta bersama para abdi dalem berjalan mengitari beteng Keraton Jogjakarta. Prosesi ini kerap dibarengi dengan tapa bisu.

Tapa bisu atau tanpa berbicara, lanjutnya, adalah sarana introspeksi diri. Terutama atas tindak tanduk yang dilakukan selama setahun terakhir. Untuk kemudian menjadi catatan diri memasuki tahun yang baru.

"Secara esensi tidak hilang, tetap sama. Selain doa bersama juga ada macapat bersama para abdi dalem," katanya.

Kanjeng Wijaya, sapaannya, menuturkan macapat adalah wujud lantunan doa. Dengan membuatnya menjadi sebuah syair yang indah. Untuk kemudian didendangkan dengan irama bahasa Jawa.

Prosesi berlanjut dengan doa yang dipimpin oleh Kanca Kaji. Berupa doa permohonan agar dengan hadirnya tahun baru menjadi berkah untuk negara dan bangsa. Termasuk terbebas dari pandemi Covid-19.

"Semoga di 1956 Ehe ini nanti kawula Ngayogyakarta Hadiningrat selalu diberi kemudahan keselamatan dan juga untuk negara Republik Indonesia dilanjutkan pembangunan, utama khususnya Jogjakarta. Artinya jauh dari marabahaya, selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT," ujarnya.

Meski berlangsung sederhana namun prosesi upacara tradisional berlangsung khidmat. Para abdi dalem yang hadir terlihat khusyuk dalam melantunkan doa. Termasuk keindahan syair - syair macapat.

"Acara ini yang utama memerlukan kesederhanaan tapi esensi tetap ada. Diikuti oleh sekitar 300 orang. Mulai dari warga dan dari perwakilan paguyuban abdi dalem di kota dan kabupaten," katanya. (Dwi) Editor : Editor News
#keraton jogjakarta #Tahun baru Jawa #doa bersama #malam 1 suro