Koentjoro menyampaikan bahwa seseorang atau individu akan bersikap berbeda saat berada di tengah massa atau gerombolan. Ketika berada ditengah massa akan mendorong munculnya perilaku atau tindakan yang tidak akan dilakukan saat sedang sendiri.
“Jiwa massa ini timbul ketika berada diantara massa dan memunculkan perilaku aneh yang saat dia sendirian tidak akan berani melakukan hal-hal itu. Apalagi ditambah dengan mengenakan pakaian atau atribut yang kemudian menggambarkan itu adalah satu bagian,” jelasnya, Selasa (26/7).
Faktor massa dan atribut, lanjutnya, menjadikan seseorang berani melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan saat sendiri. Termasuk tindakan yang mengarah pada anarkisme. Tak berpikir panjang hingga terjadi konflik bahkan secara fisik.
Kondisi ini tak hanya terjadi pada suporter sepakbola. Munculnya keberanian juga bisa terjadi saat kampanye hingga demonstrasi. Penyebabnya sama, yaitu kerumunan massa dan atribut.
“Misalnya saja di tengah demo atau kampanye ada pemimpin yang meneriakkan kata-kata dan melakukan gerakan tertentu secara tidak sengaja atau tak disadari akan tertular. Orang seringkali kehilangan kesadaran saat sudah berkumpul karena terhipnotis lingkungan,” katanya.
Guna mencegah kericuhan massa, Koentjoro menyebutkan pentingnya upaya pengendalian masa. Pengengendalian massa bisa dilakukan memecah massa dalam kelompok-kelompok lebih kecil. Tujuannya agar jiwa massa tidak terlalu solid.
Dia berpesan agar aparat keamanan dapat membuat pengaturan waktu kepulangan suporter dalam beberapa kloter. Selain mengatur rute untuk memecah kerumunan. Guna mengantisipasi adanya provokasi dan penyusup.
“Munculnya jadi adu domba atau pun buat konten biar viral. Ini kan mengerikan jadi untuk mencegah kericuhan perlu memecah konsetrasi massa baik lewat pengaturan waktu ataupun rute,” ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News