Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Suhu Dingin dan Waspada Angin Kencang

Editor Content • Rabu, 27 Juli 2022 | 16:22 WIB
SHARING: Menteri BUMN Erick Thohir berdialog dengan pelaku seni dan budaya di DIJ saat menghadiri Temu Budaya di area Drop Zone Keberangkatan Yogyakarta International Airport (YIA) Temon, Kulonprogo.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)
SHARING: Menteri BUMN Erick Thohir berdialog dengan pelaku seni dan budaya di DIJ saat menghadiri Temu Budaya di area Drop Zone Keberangkatan Yogyakarta International Airport (YIA) Temon, Kulonprogo.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Memasuki musim kemarau, suhu udara dingin sangat teras di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Fenomena ini, bagi orang Jawa disebut bediding. Normalnya, suhu udara berkisar 31-33 derajat celcius. Kini, rerata suhu maksimum hanya 29-31 derajat celcius. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIJ bahkan mencatat, suhu minimum sentuh 17,8 derajat celcius pada Senin (25/7), khususnya saat malam hingga dini hari.

 

Forecaster Stasiun Meteorologi (Stamet) Jogjakarta Rahmad Tauladani menyebutkan, fenomena ini karena adanya pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering ke Asia melewati Indonesia yang dikenal dengan mosoon dingin Australia. Dibarengi deklinasi matahari yang berada di belahan sisi utara. “Juli, puncak matahari di utara,” ujarnya kepada Radar Jogja Selasa (26/7).

 

Deklinasi matahari di utara, membuat sisi selatan bumi mengalami musim dingin. Termasuk Australia. Efeknya, angin bertiup dari Australia ke arah utara melewati Khatulistiwa. Mengakibatkan sebagian wilayah Indonesia selatan turut diterpa angin dingin. “Itu yang mengakibatkan suhu minimum akhir-akhir ini cukup rendah. Terutama di wilayah pesisir selatan,” urai Rahmad.

Menurut Rahmad, fenomena ini normal yang merupakan siklus tahunan. Terutama bagi daerah dengan tipe hujan monsunal enam bulanan. “Ini menandakan masuk musim kemarau,” sebutnya.

Dijelaskan, angin monsoon Australia bersuhu dingin. Tapi kelembaban udaranya rendah. Padahal untuk dapat membentuk awan hujan, dibutuhkan kelembaban minimal 95-98. Sedangkan saat ini, kelembaban udara hanya 86-94.

Kelembaban yang rendah, menghambat pembentukan awan. Efeknya, jumlah awan pun sedikit. Hal ini membuat energi panas matahari yang diterima bumi tidak tersimpan. Lantaran awan hujan, sebetulnya juga dapat berfungsi sebagai penahan panas di bumi. “Pas malam hari, terjadi pelepasan energi panas yang disimpan bumi pada siang hari. Sehingga bumi, akan lebih cepat dingin,” paparnya.

Berdasar koordinasi di stasiun klimatologi, Juni-Agustus jadi puncak musim kemarau. Kondisi suhu dingin juga bertahan sampai Agustus. Suhu dingin minimum, diperkirakan sekitar 17-18 derajat celcius di perkotaan. Namun, untuk wilayah pegunungan, suhu minimum dapat mencapai 17 derajat celcius. “Akan berakhir, mendekati normal ketika matahari bergerak ke selatan. Itu akan panas lagi, itu masuk fase musim pancaroba menuju musim hujan sekitar akhir Oktober,” jelasnya.

Rahmad mengimbau masyarakat terus menjaga kesehatan tubuhnya. Ini dapat dilakukan dengan cukup minum air putih dan menjaga vitalitas tubuh agar tidak gampang sakit. Selain itu, perlu kewaspadaan lebih pada angin kencang di wilayah pesisir.

“Maka, peringatan dini yang kami berikan adalah di fenomena tinggi gelombang atau rob yang terjadi di wilayah pesisir DIJ. Angin kencang, dapat membuat gelombang sampai 4-6 meter yang masuk kategori tinggi. Ini akan berdampak dan kehati-hatian bagi nelayan atau wisatawan,” tandasnya. (fat/din) Editor : Editor Content
#DIJ #Jogjakarta