Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tutup Lapak Beralih Jualan Asongan

Editor Content • Senin, 25 Juli 2022 | 16:57 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Keluhan sebagian pedagang kaki lima (PKL) yang turun omzet lantaran sepi pembeli di Teras Malioboro (TM) 2 belum juga direspon baik oleh Pemprov DIJ. Sebagian pedagang memilih beralih pekerjaan dengan menjadi pedagang asongan.

Salah seorang PKL Malioboro, Upik Supriyati mengatakan akibat sepi pembeli sebagian pedagang tidak membuka dagangannya sama sekali di lapak TM 2. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka bahkan beralih pekerjaan dengan menjadi pedagang asongan. "Itu nggak buka dagangan sama sekali, mereka memilih ngasong ganti jualan buah, ngasong di tempat-tempat Malioboro. Teman saya itu ngasong jualan salak," katanya kemarin (24/7).

Upik menjelaskan pedagang yang mengalami penurunan omzet biasanya berjualan di lokasi yang kurang strategis yang jarang dilintasi oleh pengunjung. Spot itu berada di sisi belakang atau timur dan pinggir TM 2. Jumlah pedagang yang mengalami nasib penurunan omzet ini mencakup sekitar 80 persen dari keseluruhan pedagang yang menempati TM 2. Atau sekitar 500-600 pedagang yang mengalami nasib serupa. "Di timur belakang dan bagian pojok-pojok banyak yang mengeluh tak laku. Hanya yang jualan di muka Alhamdulilah tetap laris," ujarnya.

Pada Juni 2022 lalu dalam audiensi PKL dengan pemerintah setempat, pemprov menjanjikan bakal mencarikan solusi dan menangani segala keluhan para pedagang. Terutama soal minimnya omzet yang didapat setelah direlokasi. "Kemarin terakhir ketemu (audiensi) dengan sekprov katanya pemerintah siap mau membantu promosi tapi ya sampai sekarang belum ada," tandasnya.

Pun Upik menyambut baik rekomendasi pansus DPRD Kota Jogja yang bertugas melakukan pengawasan relokasi PKL Malioboro. Beberapa poin rekomendasi mengarah pada aspek peningkatan pendapatan pedagang di antaranya memberikan pendampingan kepada pedagang yang kini menempati TM satu maupun TM dua.

Pansus juga memberi catatan khusus apabila pemerintah daerah tidak menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan, maka PKL yang sudah direlokasi sebaiknya diizinkan kembali ke tempat awal mereka berjualan yaitu di sepanjang pedestrian kawasan Malioboro. "Kalau teman-teman dalam hati kecilnya sebagian besar inginnya seperti itu (kembali berjualan di pedestrian). Jadi kami mengapresiasi rekomendasi Pansus DPRD Kota Jogja kemarin," tambahnya.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan sejauh ini tengah berupaya memenuhi segala kebutuhan para pedagang. Sejatinya, bahwa Teras Malioboro dua merupakan tempat berjualan sementara sebelum PKL akan kembali direlokasi ke tempat lain secara permanen. "Teras Malioboro satu maupun dua telah melakukan perbaikan-perbaikan, tapinya harap dimaklum yang TM (Teras Malioboro) dua kan hanya sementara. Kita tetap berusaha untuk kenyamanan penjual dan pembeli," katanya.

Menurutnya, Teras Malioboro adalah lokasi yang lebih layak dan representatif untuk berjualan. Pun pemprov juga memberlakukan relaksasi untuk mengurangi beban finansial pedagang. "Tempat lebih layak daripada mengganggu pejalan kaki sudah kami berikan. Mereka mengelola sambil menunggu pendapatan, baik kami gratiskan. Listrik, air, sampah sudah kami berikan secara gratis," imbuhnya. (wia/bah) Editor : Editor Content
#teras malioboro #PKL