Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menkominfo Segera Tata Ulang 22 BTS

Editor Content • Jumat, 15 Juli 2022 | 16:47 WIB
BENTANG PANDANG: Menkominfo Johnny Gerard Plate didampingi Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Wiwit Kasiyati serta para pimpinan operator seluler dan penyedia menara BTS saat meninjau bentang pandang di Candi Borobudur, kemarin (14/7). (Naila Nihayah
BENTANG PANDANG: Menkominfo Johnny Gerard Plate didampingi Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Wiwit Kasiyati serta para pimpinan operator seluler dan penyedia menara BTS saat meninjau bentang pandang di Candi Borobudur, kemarin (14/7). (Naila Nihayah
RADAR JOGJA - Sebanyak 22 menara telekomunikasi atau base transceiver station (BTS) yang berada di radius 5 kilometer dari Candi Borobudur, bakal ditata ulang. Ketinggian menara-menara itu akan diatur maksimal sejajar dengan teras Arupadhatu, yakni 283 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Hal itu disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Gerard Plate saat berkunjung ke Candi Borobudur, kemarin (14/7). Dia bersama rombongan menyempatkan diri menaiki struktur candi memakai sandal upanat. Saat berada di puncak, dia sempat memantau beberapa BTS.
Dia menuturkan, kunjungannya kali ini dalam rangka implementasi penataan kembali kawasan Candi Borobudur, sehingga menjadi kawasan yang terintegrasi. Memiliki wajah baru, manajemen baru, serta infrastruktur pendukung baru. Yakni penataan secara menyeluruh kawasan Candi Borobudur termasuk infrastruktur fisik, meliputi jalan dan sarana prasarana fisik maupun infrastruktur digital.
Terkait infrastruktur digital, kata Johnny, pihaknya telah melakukan penataan dan evaluasi di kawasan radius 5 kilometer dari pusat Candi Borobudur. Yang mana terdapat 22 menara telekomunikasi yang nantinya akan didesain ulang. Dengan ketinggian menara telekomunikasi dibatasi maksimal sama dengan ketinggian teras Arupadhatu atau 283 mdpl.
Upaya itu sebagai bagian dari upaya penataan kawasan Candi Borobudur dengan tetap memperhatikan layanan telekomunikasi di sekitar candi. “Saya memastikan dan melihat secara langsung penataan-penataan infrastruktut digital yang harus ditata ulang,” ujarnya saat konferensi pers di Lapangan Kenari, Kompleks Candi Borobudur.
Dia mengapresiasi para operator seluler maupun operator menara telekomunikasi karena telah berkomitmen untuk melakukan penataan kembali BTS di kawasan Candi Borobudur. Pihaknya juga akan melakukan koordinasi instansi dan institusi terkait, seperti pemerintah daerah agar proses perizinan dan komunikasi dengan wilayah setempat berjalan lancar dan dipercepat.
Selain infrastruktur telekomunikasi, dia juga menyoroti soal menara-menara listrik, sistem kamera pengawas, tanda-tanda evakuasi, dan berbagai hal yang menyangkut penataan kawasan Borobudur. Dia berharap, pembangunan ini juga merupakan bagian dari kesatuan penataan ulang dan keindahan kawasan Candi Borobudur.
Dikatakan, sudah cukup lama keberadaan infrastruktur telekomunikasi ini dibahas agar tetap sesuai dengan kaidah dan posisi istimewa Borobudur di mata dunia. Bentang pandang Candi Borobudur haruslah tetap terjaga keaslian dan kebersihannya.
Untuk itu, dia meminta kepada para operator seluler selalu mendukung upaya menjaga warisan budaya ini. “Utamanya dengan tetap memperhitungkan posisinya sebagai destinasi wisata superprioritas,” papar Johnny.
Terlebih, kawasan ini akan menjadi salah satu venue bagi penyelenggaraan event internasional, yaitu pertemuan G20. Hal itu menjadi kesempatan untuk menampilkan budaya yang adiluhung dengan tetap menujukkan kecanggihan digitalisasi.
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Warisan Dunia, Balai Konservasi Borobudur (BKB) Yenny Supandi menjelaskan, warisan dunia yakni Borobudur Temple Compounds bukan hanya candi saja. Tetapi juga terintegrasi dengan kesatuan yang ada di kawasannya atau dikenal sebagai lanskap budaya Borobudur.
Dalam konteks lanskap budaya, dia menyebut, ada satu variabel atau komponen yang sangat penting, yakni visual lanskap atau bentang pandang.  Biasanya, akan selalu terkait dengan segala sesuatu yang bisa dipandang.
Hal itu sudah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2014 tentang rencana tata ruang kawasan Borobudur dan sekitarnya. Karena bentang pandang di kawasan Borobudur harus dilindungi. Bentang pandang ini mencakup view dari Candi Borobudur ataupun dari luar ke Candi Borobudur.
Dia menyebut, bentang pandang itu dapat dilihat saat berdiri di puncak candi seperti di lantai tujuh atau Arupadhatu. “Kita melihat ke sekitar cukup banyak visual atau objek yang menganggu pemandangan indahnya (Candi Borobudur, Red),” ujarnya.
Menurut Masterplan Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 1979, nilai kesakralan dari Candi Borobudur hanya bisa terbentuk oleh candi dan pemandangan indah di sekitarnaya. Sehingga, kesakralan itu tidak bisa hanya dibentuk oleh candinya saja, tapi juga kawasan sekitarnya. Pemandangan indah itu, kata Yenny, merupakan supporting untuk menyusun dan membentuk kesakralan candi.
Objek-objek yang dianggap menganggu bentang pandang itu, menurut Yenny, seperti menara BTS yang tingginya melebihi Arupadhatu maupun gedung sekolah yang berukuran besar. Kemudian, objek-objek lain yang memiliki warna mencolok dan menyilaukan ketika dilihat dari puncak candi. Seperti merah, perak, atau kuning. Terlebih dengan material yang mengkilap.
Selain itu, bangunan-bangunan bertingkat yang atapnya memiliki warna harmonis dengan lingkungan sekitarnya, serta hotel-hotel tinggi yang dibangun di daerah dengan topografi tinggi. Objek-objek tersebut tentu tidak cocok dengan perlindungan bentang pandang di Candi Borobudur. Karena yang diminta adalah harmonisasi visual dengan lingkungan alamnya.
Yenny mengatakan, sejak direncanakan pada Masterplan JICA, jarak bentang pandang Candi Borobudur idealnya pada radius lima kilometer melingkar. Kemudian diadopsi dalam Perpres Nomor 58 menjadi subkawasan pelestarian (SP) 1 dan SP-2. Bahkan, bentang pandang dari jalan strategis nasional (Palbapang) ke arah gunung-gunung di kawasan Borobudur, juga harus dilindungi.
Dalam konsep Buddhisme, gunung, sungai, bekas danau purba, maupun bentukan alam yang ada di sekitar Borobudur memiliki nilai filosofi. “Hal itu menggambarkan makro cocmos-nya dari Buddhisme yang diwakili oleh penampakan atau fitur alami lanskap di Borobudur,” jelasnya.
Tahun ini, BKB tengah mendata dan melakukan kajian bentang pandang di Borobudur. Tujuannya untuk assesmen nilai-nilai penting dan menentukan apa saja yang harus dilindungi. Dalam konteks pengelolaan sumber daya budaya, langkah itulah yang pertama kali harus dilakukan.
Secara empiris, dia menyebut, ada beberapa warna yang akan tersamar dari puncak candi. Seperti hijau tua, coklat tua, maupun hitam. Namun, tidak semua dilarang dan tidak boleh terlihat dari puncak candi. Seperti permukiman di pedesaan.
Menurut Yenny, hal itu menjadi bagian dari budaya yang memang berkembang di Borobudur. Jika diperhatikan pun, rumah-rumah tradisional di pedesaan itu tidak terlalu mengganggu. “Itu boleh dilihat. Tetapi, karakter pedesaan berbeda dengan karakter bangunan-bangunan modern,” ungkap dia.
Saat ini, BKB juga tengah menyusun rencana tata bangunan lingkungan (RTBL) untuk menata bangunan-bangunan di sekitar Candi Borobudur. “Sebenarnya sudah ada di Perpres, tapi belum detail. Nanti kalau sudah ada di RTBL, akan jelas karakter bangunan yang diminta seperti apa,” tambah Yenny.
Sementara itu, Marketing & Sales Vice President PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Pujo Suwarno mendukung penuh upaya Kominfo menata ulang kawasan candi. Terutama berkaitan dengan menara telekomunikasi. Dia juga bakal melakukan penyesuaian dengan BKB terkait ketinggian BTS yang sudah ada.
Terkait dengan desain, yang terpenting tidak merusak kawasan Candi Borobudur. Dia juga berharap, setelah program ini berjalan, pemandangan atau view di kawasan candi menjadi lebih rapi. “Tadi begitu dilihat dari atas (Candi Borobudur, Red) kelihatan sekali bentuknya massif dan berdekatan. Ini yang menurut beliau (Johnny, Red) bentuk ini bisa dilakukan penyesuaian,” ujarnya. (aya/laz) Editor : Editor Content
#Candi Borobudur #bts