Remaja kelahiran 30 Desember 2006 ini mulai mengikuti seleksi paskibraka sejak Februari 2022 di tingkat sekolah. Postur tubuhnya yang tinggi yakni 170 cm serta fisiknya yang kuat turut mengantarkannya lolos seleksi hingga tembus ke tingkat nasional.
“Pengalaman saya terpilih menjadi paskibraka dimulai dari bulan Januari saat saya diberi tahu oleh kakak kelas saya di SMAN 8 Jogja mengenai seleksi paskibraka di tingkat sekolah. Kemudian setelah saya lolos di tingkat sekolah, saya langsung diberi pembekalan dan pada Februari ada seleksi di tingkat Kota Jogja,” jelasnya saat ditemui di Kantor Diskominfosan Kota Jogja, Selasa (12/7).
Berbekal kebiasaan berolahraga menjadikan Salma tak terlalu kesulitan dalam menghadapi ujian kesamaptaan. Hal ini mengingat Salma juga merupakan seorang atlet tenis lapangan.
Dukungan dia dapatkan penuh dari pihak keluarga. Apalagi ayah, ibu, dan kedua kakak sepupunya merupakan Purna Paskibraka Indonesia yang bertugas di Provinsi DIJ.
“Motivasi saya selain untuk bela negara dan untuk kebanggan orang tua saya, saya juga sudah ingin jadi paskibraka dari kecil. Saat saya kecil saya melihat kewibawaan seorang paskibraka dari kecil dulu hingga saya ingin mengimplikasikan di diri saya sekarang,” tambahnya.
Meski diakuinya berproses menjadi paskibraka cukup melelahkan, tetapi semua mampu terbayarkan ketika Salma bertemu dengan anggota paskibraka lainnya. Dia merasa tak sendirian dan menemukan teman seperjuangan dalam berproses menjadi anggota paskibraka.
Berawal dari selesai kota, meningkat ke provinsi hingga akhirnya nasional. Baginya ini adalah pengalaman tak terlupakan. Mampu menjadi yang terbaik diantara yang terbaik lainnya.
“Teman-teman yang saya dapatkan itu banyak sekali dan beragam. Jadi, ketika saya merasa down ataupun happy bersama teman-teman, sehingga saya mendapatkan relasi yang banyak,” katanya.
Sementara itu, Setyawati ibunda Salma mengaku senang dan bangga atas terpilihnya Salma menjadi bagian dari paskibraka nasional.
Wati, sapaannya, sempat merasa khawatir mengingat Salma sebelumnya berpindah dari Wonosari ke Kota Jogja untuk menimba ilmu. Dia khawatir, Salma terpengaruh kepada pergaulan yang salah.
“Saya bersyukur, Salma bisa membuktikan dia hijrah dari Wonosari dan bersekolah SMA di Kota Jogja. Dia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi paskibraka nasional. Mohon doanya semoga besok bisa mengemban tugas dengan baik,” ujarnya.
Wati terus memberikan berbagai dukungan kepada Salma. Doa dan motivasi untuk senantiasa memberikan yang terbaik juga diberikan untuk Salma.
Apalagi, ini juga sekaligus merupakan cita-cita mendiang sang ayah, Setyo Wibowo. Dia berharap, Salma bisa menjadi pembawa bendera yang mengibarkan bendera merah putih pada detik-detik proklamasi.
“Kami juga merupakan paskibraka pada tahun 1988. Kami juga dasarnya orang pramuka, sehingga memang orang lapangan. Jadi kami memang sedikit membekali Salma dari dulu untuk ikut baris berbaris. Alhamdulillah dia dari SMP ikut tonti, SMA ini ada pendaftaran ya saya dukung untuk maju,” katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News