Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mahasiswa Papua Tak Terlibat Pertikaian, Inginkan Jogjakarta Tetap Damai

Editor News • Jumat, 8 Juli 2022 | 00:22 WIB
TEGAS : Presiden Mahasiswa Papua DIJ Yundi Wonda (tengah) dan Senioritas Pelajar Mahasiswa Papua DIJ Marinus Mofu (kanan) saat mendatangi Ditreskrimum Polda DIJ, Kamis (7/7). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
TEGAS : Presiden Mahasiswa Papua DIJ Yundi Wonda (tengah) dan Senioritas Pelajar Mahasiswa Papua DIJ Marinus Mofu (kanan) saat mendatangi Ditreskrimum Polda DIJ, Kamis (7/7). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA- Senioritas Pelajar Mahasiswa Papua di Jogjakarta Marinus Mofu memastikan pihaknya tidak terlibat atas konflik di Glow Karaoke. Hanya saja salah satu mahasiswa asal Papua turut menjadi korban penganiayaan saat berada di Perumahan Jambusari, Condongcatur, Depok, Sleman, Sabtu dini hari (2/7).

Inilah yang menjadi akar kericuhan di Ruko Babarsari, Senin (4/7). Berawal dari tidak puasnya proses hukum terhadap pelaku penganiayaan. Hingga akhirnya muncul luapan emosi dengan merusak aset milik kelompok penganiaya yang berada di Ruko Babarsari.

"Kami hanya ingin ada penyelesaian hukum yang adil untuk adik kami. Dikerjakan secara profesional tapi kami beranggapan ada pembiaran terhadap mahasiswa Papua dan Babarsari kena imbasnya," jelasnya ditemui di Mapolda DIJ, Kamis (7/7).

Dalam kesempatan ini, Marinus meminta maaf kepada publik Jogjakarta. Terutama atas kericuhan yang terjadi di kawasan Ruko Babarsari. Dia juga mengaku telah berkomunikasi dengan perwakilan keluarga besar NTT dan Maluku yang ada di Jogjakarta.

Meski telah terjalin komunikasi, Marinus tetap meminta proses hukum terus berlanjut. Sehingga dapat memberikan efek jera terhadap pelaku penganiayaan mahasiswa Papua. Apalagi korban dari penganiayaan ini mengalami luka berat.

"Kepada keluarga besar Maluku, keluarga besar NTT atas nama keluarga besar Papua kami minta maaf apabila ada tindakan diluar sepengetahuan kawan -kawan. Tapi kami meminta proses hukum tetap jalan," katanya.

Marinus sepakat untuk menjaga ketertiban di Jogjakarta. Terutama untuk mengembalikan Jogjakarta sebagai kota pendidikan. Ini karena tujuan kedatangan para pemuda Papua ke Jogjakarta adalah untuk mengenyam pendidikan.

"Dari pihak manapun menjaga situasi Jogja tetap damai sebagai kota pendidikan. Harapankan situasi Jogja tetap jaga dan status kota pendidikan dikembalikan sebagai kota yang damai," ujarnya.

Presiden Mahasiswa Papua DIJ Yundi Wonda menuturkan tak ada niat membuat ricuh di Jogjakarta. Kedatangan para pemuda Papua ke Jogjakarta adalah untuk pendidikan. Itulah mengapa banyak yang memilih Jogjakarta sebagai kota mencari ilmu.

"Terima kasih bapak Gubernur DIJ dan jajaran. Kami mahasiswa mau di Jogja tetap sebagai kota pendidikan, tetap aman dan tetap damai. Tapi kami juga minta untuk pelaku penganiayaan harus bertanggungjawab untuk hukum maupun proses pengobatan teman kami," katanya. (Dwi) Editor : Editor News
#glow karaoke #Ricuh Babarsari #Polda DIJ #Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua #ricuh Jambusari