Ketua Pedagang Asongan 14 Komoditas Candi Borobudur, Egi Basiyo berharap keluhannya didengar oleh PT TWC Borobudur dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Selama dua tahun belakangan, dirinya harus kerja serabutan. Lantaran tidak bisa mengasong di Kompleks Candi Borobudur dengan dalih pengendalian Covid-19. “Kami bukan mau memperkeruh keadaan. Tapi kami ibarat anak tiri,” keluh Bas, sapaan akrabnya, dalam forum LBH Jogjakarta, Rabu (15/6).
Bas menyebut, pedagang asongan seolah luput dari perhatian. Pertanyaan tentang mengapa mereka tidak diizinkan kembali beroperasi di zona dua dalam, tidak ada jawaban. Padahal, sebanyak 340 pedagang asongan terdiri dari 14 komoditas telah kehilangan mata pencaharian. Pengasong yang beroperasi pun diwajibkan memiliki kartu izin berdagang (KIB) yang dikeluarkan oleh TWC Borobudur. “Kami berharap klarifikasi ini sampai tuntas,” pintanya.
PT TWC Borobudur terakhir kali menemui pedagang pada April lalu. Kala itu, pedagang datang dengan harapan akan ada sosialisasi pengaturan. Hal yang biasa terjadi, jelang libur mendekati perayaan Idul Fitri. Tapi, mereka justru dapat kabar buruk. “Kami terkejut, kami diberitahukan kegiatan mengasong dilarang (di zona dua dalam, Red),” ujarnya.
Pengasong hanya diperkenankan beroperasi di area parkir. Padahal, di kawasan itu sudah ada pengasong lain. Dan sudah lama pula beroperasi di sana. “Kami menyesalkan manajemen yang meminta kami berhenti berdagang seperti biasa,” ucapnya.
Kodrian, pengasong patung batu dan perunggu menambahkan, tidak ada jaminan kelompoknya bisa beroperasi secara aman, nyaman, dan berkelanjutan. Sebab, dengan bergesernya pengasong ke area parkir, bukan berarti suatu saat akan kembali diminta pindah. “Saya mengasong sudah sejak kelas 2 SD, disuruh berseragam kami ikuti, tapi apakah ada yang menjamin keberlangsungan pengasong,” sebutnya.
Ketua Umum Serikat Pekerja Pariwisata Borobudur, Wito Prasetyo menambahkan, pengasong sebetulnya telah digeser beberapa kali. Sebelum akhirnya dilarang beroperasi di zona dua dalam. “Zona itu dilarang melakukan aktivitas komersial. Tapi membuat lapak atau stand boleh,” cecarnya.
Menurutnya, alasan pengasong bertahan karena selam waktu wisatawan turun dari Candi Borobudur adalah waktu berharga. Dalam kurun 30 menit dan jarak tempuh 500 meter, wisatawan dapat ditawarkan berbagai barang. “Kan penawaran dan transaksi sambil jalan. Ini membuat asongan bertahan. Peluang mendapat lebih besar dibanding stand,” jelasnya.
Wito menegaskan agar pedagang asongan tidak dikambinghitamkan. Terutama dalam melihat permasalahan yang ada di Candi Borobudur. Sebab pengasong siap untuk tertib. Dia juga berharap, Ganjar Pranowo datang langsung ke Candi Borobudur, untuk menemui para pengasong. “Bahkan akan kami sambut dengan solidaritas pedagang asongan lain,” tandasnya. (fat/bah) Editor : Editor Content