Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bersihkan Candi dari Lumut dan Mikroorganisme

Editor Content • Rabu, 15 Juni 2022 | 13:30 WIB
GOTONG ROYONG: Petugas membersihkan bebatuan dari lumut maupun mikroorganisme lain yang menempel pada Candi Borobudur, baik secara kering maupun basah.(NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
GOTONG ROYONG: Petugas membersihkan bebatuan dari lumut maupun mikroorganisme lain yang menempel pada Candi Borobudur, baik secara kering maupun basah.(NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Balai Konservasi Borobudur (BKB) selaku pihak yang melakukan konservasi dan pelestarian Candi Borobudur, intens melakukan kegiatan penyelamatan objek wisata itu. Satu di antaranya dengan membersihkan lumut maupun mikroorganisme lain yang menempel pada bebatuan candi.

Pembersihan melibatkan beberapa pegawai BKB dengan membawa berbagai alat. Dimulai dari undakan candi bawah, lorong-lorong, hingga stupa induk Candi Borobudur. Kegiatan ini sekaligus sebagai satu rangkaian Hari Purbakala ke-109.

Kepala BKB Wiwit Kasiyati menuturkan, pembersihan dilakukan dengan metode kering atau manual dan basah. Metode kering menggunakan sikat, sapu lidi, dan kuas kemudian digosok pada bebatuan. Selain itu, rumput-rumput yang tumbuh di sela bebatuan juga dicabut. Sementara metode basah dilakukan penyemprotan air dengan tekanan tertentu.

Dia menyampaikan, pembersihan candi ini memang rutin dilakukan. Mengingat usia candi Buddha terbesar di dunia ini yang semakin renta. Batu-batu penyokong dan penyusun pun semakin aus. Keausan tangga akibat gesekan kaki pengunjung lebih banyak di sisi timur dan barat. Sedangkan sisi lainnya tidak terlalu tinggi, karena beban kunjungan tidak banyak.

Ditambah dengan banyaknya lumut dan mikroorganisme lain lantaran keberadaannya di alam terbuka. Panas dan hujan juga kerap terjadi. Wiwit menjelaskan, ketika bebatuan candi tidak dibersihkan, akan mengakibatkan kerusakan yang lebih tinggi.

Photo
Photo


Untuk itu, BKB terus berupaya meminimalisasi tingkat kerusakan yang terjadi. “Kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga keterawatan batu di Candi Borobudur,” ujarnya saat ditemui di kantornya kemarin (14/6).
Selain menggunakan metode kering dan basah, nantinya bakal ada rencana pembersihan menggunakan minyak asiri. Namun uji coba pembersihan itu akan dilaksanakan saat kunjungan Presiden Jerman, Jumat (17/6) mendatang.

Dalam pemeliharaan candi, Wiwit menyebut, BKB dibantu oleh UNESCO Jakarta mendatangkan ahli dari Jerman. Guna mengamati permukaan batu candi yang terkena abu vulkanik pasca erupsi Gunung Merapi pada 2010 silam.
Nantinya, Presiden Jerman akan meninjau sejauh mana hasil dari bantuan yang telah diberikan. Terutama alat yang digunakan untuk melihat kondisi bagian bawah batu candi. “Di bawah batu ada saluran drainase, di situ ada alat yang bisa memonitor apakah ada sampah atau sesuatu lain yang dapat menghambat proses lajunya air,” jelas Wiwit.

Dia menyebut, selain kerusakan serta keausan pada dinding dan tangga candi, banyak pula titik kebocoran di sela-sela bebatuan. Meski berkali-kali ditangani, kebocoran terus terjadi. BKB sendiri tidak dapat memastikan kebocoran dapat tertangani dengan sempurna.

Dulunya, BKB pernah menerapkan konsep khusus untuk menangani kebocoran itu. Namun selang beberapa periode, masih terus terjadi. “Kebocoran ini memang tidak bisa dipastikan tidak bocor lagi. Ketika semua titik sudah tertangani, ternyata di beberapa periode kemudian masih ada lagi,” paparnya.

Dia melanjutkan, struktur Candi Borobudur kini telah siap untuk menampung wisatawan. Terkait pelaksanaannya, dia mengaku belum ada informasi resmi. Namun, BKB serta PT Taman Wisata Candi Borobudur terus menyiapkan diri jika sewaktu-waktu resmi dikunjungi. BKB juga telah menyiapkan prosedur operasi standar (SOP). Tentunya dengan pembatasan pengunjung yang naik ke struktur candi.

Nantinya ketika pengunjung diperbolehkan naik ke struktur candi, lanjut dia, diharuskan memakai sandal upanat. Yang notabene diproduksi oleh masyarakat di sekitar Candi Borobudur. Selain itu, bakal dipandu dengan pemandu wisata atau tour guide yang berkualitas dan bersertifikat.

Pemandu wisata yang berkualitas ini dinilai penting, lantaran sebagai penunjang sekaligus mempertegas bahwa warisan dunia memiliki nilai outstanding universal value (OUV) yang harus diangkat. Sehingga pengunjung akan semakin paham untuk menjaga kelestarian Candi Borobudur.

Selain itu, Wiwit menjelaskan, bakal ada inovasi baru bagi para pengunjung yang tidak berkesempatan naik ke struktur. Yakni melalui teknologi digital, baik dari ponsel maupun media lain agar dapat melihat kemegahan Candi Borobudur. “Tidak dalam waktu dekat. Kami baru membuat konsepnya. Mudah-mudahan tahun depan bisa terealisasi,” sebutnya. (aya/laz) Editor : Editor Content
#Candi Borobudur #Balai Konservasi Borobudur