Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiap Malam Minggu Buka Lapak Baca Gratis di Alun-Alun

Editor Content • Rabu, 15 Juni 2022 | 15:19 WIB
FOKUS MEMBACA: Beberapa pengunjung sedang memilih buku bacaan yang mereka sukai, lantas mulai membaca meski tidak dituntaskan.(ISTIMEWA)
FOKUS MEMBACA: Beberapa pengunjung sedang memilih buku bacaan yang mereka sukai, lantas mulai membaca meski tidak dituntaskan.(ISTIMEWA)
RADAR JOGJA - Kecenderungan generasi Z sekarang justru berorientasi pada kesenangan semata. Sedikit yang memahami pentingnya keterampilan dalam bidang tertentu. Namun, komunitas Literasi Sosial yang seluruh anggotanya merupakan anak-anak muda, gencar mengkampanyekan pentingnya literasi dengan membuka lapak baca gratis.

NAILA NIHAYAH, Magelang, Radar Jogja

Memilih satu kegiatan positif justru akan melahirkan dampak yang besar. Mungkin tidak dirasakan hari itu juga. Melainkan satu atau beberapa tahun kemudian. Terlebih bagi para kaum muda yang prihatin dengan kondisi literasi di Indonesia, khususnya di Kota Magelang.

Komunitas bernama Literasi Sosial ini saban malam Minggu membuka lapak di jantung Kota Magelang. Tepatnya di depan Klenteng TITD Liong Hok Bio. Kecuali jika kondisi hujan dan tidak memungkinkan membuka lapak, mereka meliburkan diri.

Sebelum membuka lapaknya, terlebih dulu mereka menggelar alas dengan memanfaatkan banner bekas. Buku-buku dengan berbagai genre itu ditata dengan rapi. Membentuk deretan panjang. Ada pula yang ditumpuk. Mengingat lebar banner yang tak seberapa.

Siapa sangka anak-anak tongkrongan semasa SMA memiliki inisiatif untuk membuka lapak baca gratis di ruang publik. Semula, mereka justru berencana membuka perpustakaan untuk menampung buku-bukunya. Namun, hanya sebatas wacana.

Hingga tiba waktu di mana mereka yang notabene berasal dari satu almamater, berkumpul lantaran pandemi. Membuat aktivitas dan gerak mereka terhambat. Termasuk rutinitas kuliah maupun kerja.

Saat itu, mereka kembali membicarakan soal rencana pembuatan perpustakaan. Setelah diskusi panjang lebar, lantas mengambil keputusan dengan membuat perpustakaan jalanan bernama Literasi Sosial. Dengan konsep menyediakan aneka ragam buku dan menggelar lapak bacaan gratis di ruang publik.

Dengan menyandang nama Literasi Sosial, para anggota memang memiliki arah pergerakan yang fokus pada kegiatan sosial. “Kami sendiri ngenes terkait tingkat literasi yang rendah, terutama di Kota Magelang,” papar Baruna Bima saat ditemui di lokasi, Sabtu malam (11/6).

Karena itulah, mereka berinisiatif membuka lapak di ruang publik pada Maret 2021. Tujuannya agar masyarakat yang melintas di kawasan Alun-Alun Kota Magelang berminat mampir dan meluangkan waktunya untuk membaca.

Lapak itu juga menjadi wadah bagi orang yang tingkat literasinya tinggi, namun belum terfasilitasi dengan maksimal. Bisa saja, mereka sibuk dengan aktivitas sehari-hari hingga tidak mempunyai waktu ke perpustakaan. Saat malam Minggu, mereka bisa meluangkan waktu untuk sekadar jalan-jalan dan mampir di lapaknya.

Dulunya, para anggota komunitas Literasi Sosial membuka lapaknya di Taman A. Yani, depan Taman Badaan Kota Magelang. Lantaran benar-benar sepi dan minimnya orang yang mampir, membuat mereka memutuskan pindah di alun-alun.

Buku yang semula hanya berjumlah 80-an, kini bertambah menjadi 200-an. Dengan berbagai genre. Buku-buku itu mereka kumpulkan dari koleksi pribadi maupun donasi. Jadi, setiap malam Minggu, mereka berbondong-bondong datang ke alun-alun dengan membawa dua tenteng tas besar.

Saat hari biasa, para anggota yang terdiri atas 16 orang itu memiliki kesibukan masing-masing. Sehingga mereka juga sepakat hanya menggelar lapak baca buku gratis pada malam Minggu saja. Terlebih, Alun-Alun Kota Magelang begitu ramai saat hari libur.

Mereka berasumsi, jika setiap malam buka lapak, kemungkinan besar masyarakat akan bosan. “Kalau buka setiap malam, nanti mereka bosan dan tidak mencari kami. Tapi, kalau hanya malam Minggu saja, ada harapan mereka bakal cari kami,” timpal Anis Syaiful Amri.

Kendati demikian, Amri menilai, tingkat kepedulian masyarakat terhadap literasi masih di bawah rata-rata. Masyarakat cenderung hanya jalan, melirik, dan melewati begitu saja tanpa tahu isi buku-buku itu. Tidak mampir membaca dan terkesan abai.

Yang mampir ke lapak Literasi Sosial juga masih bisa dihitung jari. Lapak yang buka pukul 17.00-22.00 ini kadang sepi pengunjung. Bahkan, saat hujan hanya ada sekitar 4-8 orang yang mampir. Berbeda jika cuaca cerah. Dipastikan lapaknya akan ramai, meskipun hanya diisi obrolan-obrolan ringan.

Justru yang sering mampir ke lapaknya adalah dari kalangan anak-anak. Dengan membawa sepeda kayuhnya, mereka berhenti di depan lapak.

Memindai buku cerita apa saja yang menarik. Jika dirasa sampulnya bagus dengan judul yang membuat penasaran, lantas mereka ambil. Buku itu dibolak-balik. Hingga akhirnya minta dibacakan oleh anggota Literasi Sosial.

Mereka memang kerap mampir dan mendengarkan dongeng dari anak-anak muda itu. “Kalau ada buku yang disuka, meskipun cuma cover-nya aja, nanti kami bacakan. Mereka juga antusias mendengarkan,” tambah mahasiswa vokasi perpajakan ini.

Selain mendongeng, mereka juga menggelar mimbar bebas. Antara pukul 21.00-22.00. Semacam diskusi kecil atau pun mengobrol ringan dengan pembahasan apa pun. Berbagi argumen dan berpikir kritis.

Dengan adanya lapak baca gratis Literasi Sosial, diharapkan mampu membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya literasi. “Ke depan, semoga bisa menjadi wadah bagi kaum muda untuk berkreasi. Lewat seni atau karya buku. Yang penting bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Alfin Reza.

Seperti rencana sebelumnya, mereka juga berkeinginan membuka perpustakaan secara permanen. Tidak membuka lapak di alun-alun. Agar punya tempat untuk berkumpul dan berkegiatan setiap harinya. (laz) Editor : Editor Content
#Magelang #Baca Gratis