RADAR JOGJA - Minyak goreng (migor) bekas atau biasa disebut jelantah, ternyata tidak hanya sekadar limbah bagi Yomi Windi Asri. Perempuan asal Banguntapan, Bantul, ini berinovasi membuat sabun cuci dari bahan dasar jelantah itu. Hasilnya pun lumayan. Selain lebih ramah lingkungan, sabun dari jelantah juga memiliki ekonomis tinggi.
IWAN NURWANTO, Bantul, Radar Jogja
Jelantah selama ini lebih dikenal sebagai sampah oleh sebagian masyarakat. Bagi industri besar, mungkin jelantah bisa diolah menjadi biodiesel. Namun bagi kalangan rumah tangga, mentok-mentok minyak goreng yang sudah tidak terpakai lagi itu hanya dibuang dan dapat dipastikan bakal menambah jumlah limbah.
Namun nasibnya akan berbeda jika sudah dipegang Yomi Windi Asri. Melalui rumah produksinya bernama Langis yang berpusat di Kalurahan Jambidan, Banguntapan, ia berinovasi membuat sabun cuci berbahan dasar migor. Sudah sejak 2019 lalu Yomi aktif mengembangkan usahanya.
Yomi menyebut, sabun dari migor bekas memiliki keunggulan, lebih ramah lingkungan karena bahan dasarnya merupakan limbah. Namun meski dibuat dari barang yang sudah dibuang, kemampuan sabun produksinya untuk membersihkan noda dan wanginya tidak kalah dengan sabun cuci pabrikan.
Diceritakan Yomi, inovasi itu bermula dari keaktifannya di bank sampah. Kala itu ia melihat limbah migor bekas cukup menjadi masalah serius di lingkungan rumahnya. Sebab, jumlah yang dihasilkan setiap satu rumah tangga cukup banyak dan bisa mencapai puluhan liter jika dikumpulkan.
Sayangnya, pengolahan jelantah hanya mentok untuk dibuat biodiesel saja. Yomi pun memutar otak dan melakukan berbagai upaya agar limbah itu bisa bernilai ekonomis lebih tinggi. Salah satunya diolah secara kimiawi dengan dibuat sabun cuci.
“Awalnya memang berawal dari gerakan bank sampah di perumahan kami. Di situ kami melihat setoran minyak jelantah banyak sekali, sampai 60 liter. Akhirnya kami punya ide untuk dibuat sabun,” ujar Yomi kepada Radar Jogja kemarin (7/6).
Terkait peminatnya, ia menyebut untuk sabun inovasinya masih diminati sebagian kalangan saja. Namun demikian penjualannya tetap cukup tinggi. Dalam sebulan, dengan usaha Langis miliknya sabun produksinya bisa laku sampai puluhan buah. Dengan harga jual Rp 15 ribu untuk sabun batang dan Rp 25 ribu untuk yang jenis sabun cair.
Selain memproduksi sabun berbahan dasar jelantah, Yomi melalui usahanya juga memproduksi sabun mandi organik, sabun khusus untuk kain batik serta pewarna alami. Melalui bank sampah yang dikelolanya, ia juga aktif memberdayakan masyarakat untuk bisa mengolah sampah menjadi sesuatu yang bisa dijual dan memiliki ekonomi lebih tinggi.
Ia mengakui untuk pemasarannya lebih mengandalkan online. “Untuk pemasaran sabun Langis kami lebih banyak melalui toko-toko online dan Instagram @langis_soap,” ungkas Yomi. (laz) Editor : Editor Content