Penyebab lainnya adalah munculnya La Nina kategori sedang. Terpantau terjadi di Samudera Pasifik sisi garis ekuator dan Samudera Hindia. Fenomena alam ini berangsur-angsur melemah hingga September 2022.
"La Nina ini akan beralih dari lemah ke netral diawali dari bulan Oktober lalu masuk November dan berakhir Desember 2022," jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (24/5).
Staklim BMKG juga memantau Indian Ocean Dipole (IOD). Saat ini kondisi menunjukkan kecenderungan kearah IOD negatif. Imbasnya adalah penambahan suplai uap air. Kondisi ini diprediksi berlangsung hingga Agustus 2022.
Berdasarkan data ini, Staklim BMKG memprediksi adanya potensi penambahan curah hujan. Terjadi selama periode musim kemarau dengan kriteria curah hujan rendah hingga menengah. Memiliki sifat hujan diatas normal.
"Diprakirakan untuk tiga bulan kedepan yaitu pada bulan Juni sampai Agustus 2022. Curah hujan dengan kriteria rendah hingga menengah umumnya berkisar 0 hingga 150 milimter perbulan," katanya.
Reni mengimbau agar masyarakat mulai bersiap diri. Terutama atas kondisi musim kemarau yang bersifat atas normal. Dia juga mengimbau agar petani mulai mempersiapkan pola tanam yang sesuai.
Staklim BMKG juga telah bersurat ke instansi terkait. Guna mewaspadai potensi kekeringan meteorologis. Tepatnya pada saat puncak musim kemarau yang diprakirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2022.
"Kami minta semua komponen mengantisipasi hal ini. Khususnya untuk petani agar menyesuaikan pola tanam supaya tidak mengalami gagal panen," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News