Kepala Kelompok Data Stasiun Klimatologi BMKG DIJ Etik Setyaningrum menjelaskan hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya kembalinya kondisi la nina lemah yang mengakibatkan curah hujan diperiode musim kemarau.
Selain itu, terjadi anomali suhu muka laut di wilayah samudera Hindia. Suhu dinilai cukup hangat dibandingkan dengan suhu rata-rata. Hal ini memicu tumbuhnya awan yang menyebabkan turunnya hujan.
"Kebetulan wilayah DIJ ini awal musimnya beda-beda, tergantung zona musimnya. Ada yang April, ada yang Mei secara normalnya. Dipengaruhi oleh beberapa hal tadi, makanya masih ada hujan," jelasnya saat ditemui di Stasiun Klimatologi BMKG DIJ, Senin (23/5).
Etik menambahkan meski awal musim kemarau ini diwarnai dengan turunnya hujan, namun intensitasnya dinilai tak setinggi saat musim penghujan. Dia menjelaskan curah hujan di wilayah DIJ selama kemarau hanya terjadi kurang dari 50 milimeter per dasarian.
"Secara normalnya wilayah DIJ sudah memasuki musim kemarau, April-Mei. Karena ada fenomena ini diprediksikan akan terjadi pergeseran yakni di awal hingga pertengahan bulan Juni," katanya.
Terjadinya hujan saat musim kemarau ini perlu menjadi perhatian bagi masyarakat. Terlebih bagi masyarakat yang mata pencehariannya bergantung pada cuaca, misalnya petani.
Untuk itu, masyarakat diimbau untuk terus memperbarui informasi mengenai iklim yang terjadi di wilayah Jogjakarta. Dia mengimbau para petani dapat menyesuaikan pola tanam yang tepat.
"Masyarakat tidak perlu panik. Masyarakat perlu mengupdate informasi iklim, karena kondisi iklim seperti musim kemarau ini tidak seperti biasanya. Kalau biasanya kemarau sama sekali tidak ada hujan, ini masih ada hujan. Khususnya para petani juga harus menyesuaikan pola tanam yang tepat," imbaunya. (isa/dwi) Editor : Editor News