Suwarni, jadi salah satu buruh gendong yang unjuk diri. Dikenakannya setelan kebaya berwarna hitam. Hasil pinjaman dari tetangganya. Lantaran kebaya yang diberikan oleh panitia, tidak cukup baginya yang memiliki tubuh sintal.
Awalnya perempuan 42 tahun ini mengira, hanya diminta berkumpul untuk membahas masalah paguyuban buruh gendong. Momentum peringatan Hari Kartini, dimakluminya sebagai keharusan mengenakan kebaya. “Tahu-tahu disuruh kayak gini (diminta catwalk, Red). Jadi grogi,” ujarnya malu-malu saat diwawancarai kemarin (20/4).
Meski gugup, ibu dua orang anak ini tak mengurungkan niatnya melangkah anggun di karpet merah. Menjajarkan diri, dengan para senior yang berusia hampir lipat dua daripadanya. Menyetarakan pandangan dengan seru kemandirian perempuan.
Terhitung, sudah sepuluh tahun belakangan, Suwarni jadi buruh gendong. Tekad itu bulat setelah suaminya sakit. Sementara penghidupan harus terus dipenuhi. “Tulang belakang suami saya bengkok,” ungkapnya menyembunyikan sedih.
Sebetulnya, suami Suwarni tidak berdiam diri. Nafkah masih diraihnya dengan membuka warung di rumah mereka, Sedayu, Bantul. Suami Suwarni menjual kebutuhan rumah tangga seperti gula dan teh. “Bekerjanya (suami, Red) cuma sedikit-sedikit,” bebernya dengan suara yang mulai lirih.
Untuk itu, Suwarni membantu sang suami memenuhi kebutuhan dua anaknya yang masih sekolah. Kendati penghasilan sebagai buruh gendong tidak cukup besar. Rata-rata penghasilan yang diperoleh sebesar Rp 50 ribu. “Saya berjuang untuk mendapat biaya untuk anak saya. Anak dua, dua-duanya masih sekolah,” ucapnya disertai mata berkaca-kaca.
Semangat para buruh gendong dalam memperjuangkan keluarganya ini, ditangkap oleh Perempuan Berkebaya Indonesia. Kemudian tercetus ide untuk menggelar Fashion Show Kartini Beringharjo. Sebagai momentum peringatan Hari Kartini setiap 21 April. “Mereka, kami briefing sebentar untuk cara berjalan,” papar Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia, Margaretha Tinuk Suhartini.
Tinuk, sapaan akrabnya, berharap dari gelaran ini memunculkan pandangan positif terhadap wisata di Jogja. Sebab keistimewaan Jogja, turut dipikul oleh buruh gendong. Profesi yang kerap terpinggirkan, padahal berperan besar dalam proses perdagangan di Pasar Beringharjo. “Karena baru ada di Jogja, semoga ini menjadi daya tarik. Kalau Jogja memang unik dan istimewa,” lontarnya.
Pada gelaran perdananya ini, Perempuan Kebaya Jogja mampu mengumpulkan 44 orang buruh gendong. Terdiri dari buruh gendong dengan rentang usia 42-80 tahun. “Harapannya akan digelar rutin, melihat antusiasnya kami ingin menjadikannya agenda rutin kami,” tandasnya. (fat/bah) Editor : Editor Content