Dalam ceramah tarawih, Din Syamsuddin bercerita berbagai hal. Berdasarkan catatan sejarah, tidak sedikit kerajaan Nusantara yang berbasis Islam menjadi tonggak Indonesia. Baik secara ketokohan personal maupun dukungan kerajaan.
"Total 73 persaudaraan dan menurut sejarawan dengan penuh kerelaan, keiklasan menyerahkan diri, menyerahkan kekuasaan untuk bergabung dengan NKRI," jelasnya dalam ceramah tarawih di Masjid Kampus UGM Jogjakarta, Selasa (12/4).
Din juga menceritakan sejarah pada puncak kemerdekaan Indonesia. Berupa saran pemilihan hari proklamasi kemerdekaan. Tepatnya pada 17 Agustus 1945.
Momentum tersebut atas syarat seorang kyai asal Madiun Jawa Timur. Sosok ini menyarankan kepada Soekarno agar memilih 17 Agustus 1945. Atas pertimbangan jatuh pada hari Jumat di bulan Ramadan.
"Ternyata yang mengusulkan kepada bung Karno secara tertulis agar NKRI diproklamasikan pada bulan Ramadan hari Jumat Ramadan 17 Agustus seorang ulama Muhammadiyah di Madiun Kyai Haji Abdul Mukti dan ada dokumen itu tertulis. Ulama lain mengusulkan kepada pemimpin Bangsa tentang bendera Bangsa Merah Putih dan lain semua," katanya.
Din Syamsuddin meminta penerus bangsa mempelajari sejarah Indonesia. Dalam sebuah catatan tertulis peran dan jejak Islam dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Apabila terlupakan maka berdampak pada stabilitas negara.
"Ini adalah fakta sejarah dan jangan sekali kali menghilangkan sejarah. Karena itu jangan menghilangkan jejak Islam dan sejarah kebangsaan Indonesia, karena tidak hanya merugikan umat Islam tapi kita semua," klaimnya.
Dia mengajak masyarakat untuk merajut kerukunan dan toleransi sejati. Tentunya dengan berbekal pada agama. Menurutnya tonggak utama Pancasila adalah agama.
"Negara Pancasila tidak akan tegak tanpa agama. Dengan agama atau Ketuhanan yang Maha Esa maka negara Pancasila akan tegak, dan tanpa agama maka negara Pancasila akan rusak akan terkoyak koyak," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News