Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pernah Jadi Tempat Simpan Keranda

Editor Content • Rabu, 13 April 2022 | 15:41 WIB
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Salah satu bangunan bersejarah di Kota Jogja adalah Masjid Sela atau Masjid Batu. Usianya diperkirakan mencapai 235 tahun. Lantaran dibangun pada masa era Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Masjid Sela berlokasi di RT 41 RW 11 Panembahan, Kraton, Kota Jogja. Bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya ini letaknya tersuruk dalam gang sempit. Bahkan terdapat imbauan agar pengendara motor mematikan mesin saat melintas dalam gang.

Bendahara Takmir Masjid Sela Sunar Wiyadi menuturkan, masjid ini awalnya berada di dalam kompleks rumah seorang pangeran Keraton Jogja. Masjid pun hanya dipergunakan oleh anggota keluarga keraton. “Tidak untuk umum,” ungkapnya saat diwawancarai sebelum Salat Asar kemarin (12/4).

Seiring perkembangan, pangeran itu pindah. Sehingga rumah menjadi kosong. Masjid pun terbengkalai. Warga setempat bahkan memanfaatkannya sebagai tempat menyimpan keranda mayat. “Baru sekitar tahun 1965, masjid ini dipergunakan kembali oleh masyarakat,” bebernya.

Sebelum dimanfaatkan, warga mengajukan permohonan ke Keraton Jogja. Warga menghendaki masjid kembali difungsikan sebagai rumah ibadah. Setelah Keraton memperkenankan, warga pun membersihkan masjid. Warga juga membangun penyimpanan khusus keranda di sisi barat masjid. “Mulai 1965 dibersihkan dan dipergunakan sebagai tempat ibadah, Salat Jumat, serta tarawih,” sebut Sunar.

Pria 60 tahun ini juga mengungkap, atap masjid masih asli sejak berdiri pada 1709 Saka atau 1787 Masehi. Takmir hanya melakukan pengecatan pada atap masjid. Untuk tembok masjid, pemugaran telah dilakukan dengan pengupasan. Sebab dinding masjid lembab dan tidak dapat dicat. Sementara lantai masjid sudah mengalami beberapa pembaharuan. “Tapi bentuk masjid masih asli seperti ini (sejak awal berdiri, Red),” tegasnya.

Kendati begitu, Sunar membenarkan adanya bagian bangunan yang hilang. Bagian itu adalah kolam tempat wudu dan dengan batu candi yang menghampar sebagai halaman masjid. Pengurus membuat sumur resapan sedalam delapan meter di area itu. Guna mengantisipasi banjir saat hujan berlangsung lama. “Ketika hujan, talang air juga langsung ke resapan. Dulu pernah, banjir masuk ke dalam masjid,” tandasnya. (fat/laz) Editor : Editor Content
#Kota Jogja #Masjid Sela