Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta Azman Latief tak mengetahui secara pasti sejarah gulai kambing. Hanya saja diakui olehnya sudah sejak puluhan tahun lamanya.
"Jadi menu khas karena ini merupakan tradisi dari Masjid Gedhe. Setiap Kamis itu gulai kambing. Jadi ini juga tidak tahu sejarahnya tapi sejak puluhan tahun lalu seperti itu," jelasnya ditemui di Masjid Gede Kauman, Kamis (7/4).
Azman bisa menjelaskan sedikit tentang gulai kambing ini. Pemilihan menu adalah berdasarkan hari baik. Berdasarkan catatan kalender hijriah, hari Kamis sore sudah masuk pergantian hari ke Jumat. Sehingga dianggap memiliki pahala lebih besar.
Menganggap gulai kambing sebagai tradisi yang baik, maka takjil spesial ini terus berlanjut. Hingga akhirnya menjadi ciri khas saat memasuki bulan Ramadan. Bahkan saat ini peminatnya mulai merambah warga luar Jogjakarta.
"Kami teruskan karena tidak ada yang jelek. Secara pasti tidak pernah tahu cuma cerita saja, tapi sejak saya kecil sudah seperti itu lebih dari 50 tahun lalu," katanya.
Untuk tahun ini, menu gulai kambing tersaji sebanyak 1.600 porsi setiap Kamis. Penyelenggaraan tahun ini juga istimewa karena bisa berbuka di masjid. Dua tahun sebelumnya, masjid masih ditutup karena situasi pandemi Covid-19.
Antusias warga dalam berburu gulai kambing sangatlah tinggi. Terbukti masjid mulai ramai sejak sore. Semuanya duduk di serambi masjid Gedhe Kauman Jogjakarta sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba.
"Sebagian besar dari luar ya, orang yang jauh memang sengaja wisata religi sambil berbuka bersama. Kebanyakan dari luar Kauman hampir 80 persen lebih," ujarnya.
Untuk menyajikan menu berbuka, pengurus masjid bekerjasama dengan catering. Seluruhnya dimasak oleh penyedia jasa. Tercatat ada 4 hingga 5 kelompok catering yang memasak menu berbuka puasa.
'Tahun ini buat 1600 porsi. Kami kerjasama dengan beberapa pihak yang biasa masak. Setiap harinya 1.600 tidak mungkin dimasak sendiri, sehingga kerjasama dengan 4 sampai 5 catering yang masak," katanya. (Dwi) Editor : Editor News