Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masjid Selo, Dibangun 1789 Era Sri Sultan Hamengku Buwono I

Editor News • Selasa, 5 April 2022 | 05:24 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Masjid Selo yang berada di Kalurahan Panembahan Kemantren Kraton Kota Jogja merupakan salah satu masjid kagungan dalem. Dibangun pada era Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pada prasasti tertulis pembangunan pada tahun 1789 atau 1709 Caka atau penanggalan Jawa.

Arsitektur bangunan masjid menyerupai bangunan Tamansari dan Keraton Jogjakarta. Terlihat dari atap dan juga tembok yang khas. Bahkan ketebalan tembok mencapai 75 centimeter.

"Masjid Selo aslinya namanya Masjid Watu, kalau di kromo inggil jadi Selo, tapi ada juga sebut Masjid Batu kalau bahasa Indonesia. Dibangun jaman Sri Sultan Hamengku Buwono I dilanjutkan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Bersamaan dengan pembangunan Keraton Jogjakarta," jelas Bendahara Takmir Masjid Selo Sunarwiyadi ditemui di Masjid Selo, Senin (4/4).

Sunarwiyadi menceritakan, bangunan masjid awalnya berada di dalam komplek Dalem Pangeran. Tepatnya berada di dalam pagar salah satu pangeran Keraton Jogjakarta. Fungsinya untuk ibadah salat para pangeran dan bangsawan.

"Itulah mengapa Masjid ini istilahnya panepen atau masjid khusus. Khusus untuk keluarga bangsawan. Kalau jamaah umum ada sendiri di utara masjid sekitar 200 meter," katanya.

Seiring waktu berjalan, masjid sempat tak digunakan. Sunarwiyadi tidak bisa menjelaskan secara pasti. Hanya saja dia menduga sempat tak terpakai antara puluhan hingga ratusan tahun.

Fungsinya juga berubah dari tempat ibadah menjadi tempat menyimpan keranda jenazah. Hingga akhirnya warga memberanikan diri bersurat ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Isinya agar diijinkan menggunakan masjid Selo sebagai tempat ibadah.

"Tahun 1965 beberapa tokoh masyarakat melihat ada masjid kecil tidak digunakan, lalu kirim surat ke Keraton mohon ijin gunakan, lalu dijinkan. Keno dinggo tapi ora keno diowah-owah, isi balasan surat kekancingan seperti itu," ceritanya.

Oleh masyarakat, masjid lalu dibersihkan. Keranda jenazah dipindahkan ke tempat yang sesuai. Hingga akhirnya menjadi tempat peribadahan bagi warga di sekitar Masjid Selo.

Pada awalnya, lantai masih model jerabah. Merupakan lantai tradisional dengan konstruksi semen batu merah. Sementara untuk alas menggunakan kepang dan tikar.

"Sebelumnya kalau salat Jumat ya ke Masjid Gede ya agak jauh. Setelah ini dibersihkan dan dirapikan, lalu digunakan salat jamaah termasuk teraweh kalau dulu ke masjid gede Kauman," ujarnya.

Terkait desain, Sunarwiyadi menceritakan ada campur tangan arsitek asal Portugis. Sosok inipula yang turut mendesain bangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Tamansari. Walau begitu tetap menonjolkan kearifan lokal Keraton.

Bangunan didesain dengan pintu pendek. Sehingga jamaah harus menunduk saat akan masuk ke masjid. Selain itu juga dilengkapi kolam air berbentuk U yang mengitari masjid.

"Bangunan inti masih asli yang tengah. Kalau kiri kanan bangunan tambahan. Dulu kolam itu sumber airnya dari sungai Winongo. Sekarang sudah tidak ada, tapi salurannya masih ada cuma tidak dipakai lagi," katanya.

Tebalnya konstruksi bangunan menjadikan Masjid Selo tahan gempa. Terbukti dengan adanya gempa besar 2006 tidak berimbas pada bangunan inti. Selain tebal, konstruksi juga tertanam sangat dalam.

Untuk bangunan inti memiliki luas 6 meter X 8 meter. Dalam kondisi normal bisa menampung hingga 30 jamaah. Sementara dengan bangunan tambahan bisa mencapai 150 jamaah.

"Masjid tertua tidak juga tapi tua iya. Bersamaan dengan Keraton dengan Masjid Gede Kauman itu sama. Sekarang rutin dipakai salat 5 waktu, jumatan dan tarawih," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News
#Masjid Sri Sultan Hamengku Buwono I #masjid Keraton Jogjakarta #Masjid Kagungan Dalem #Masjid Selo