Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengingat Waktu Salat, Sahur dan Buka Puasa

Editor Content • Minggu, 3 April 2022 | 15:43 WIB
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Bedug merupakan salah satu alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul. Dalam budaya Islam, bedug dibunyikan sebagai pertanda datangnya waktu salat. Hingga kini budaya menggunakan bedug masih menjadi tradisi yang terus lestari. Misalnya di Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman.

Takmir Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning Kamaludin Purnomo mengatakan, sejak bangunan Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning berdiri, bedug ini sudah ada. Tepatnya sekitar 1757-1758 pasca bangunan masjid didirikan. Pendirinya, Sri Sultan Hamengku Buwono I. “Sejak dulu hingga sekarang bedug ini selalu dibunyikan,” ungkap pria yang akrab disapa Kamal ini kepada Radar Jogja.

Bedug memiliki dua permukaan yang dapat dibunyikan. Bagian badan bedug terbuat dari kayu yang dibaut dengan pelat, melingkar. Bagian bedug yang dipukul terbuat dari kulit sapi utuh yang masih dipenuhi bulu. Bedug digantung di rangka kayu balok setinggi orang dewasa dan dipukul menggunakan kayu.
Bedug sepaket dengan kentongan. Cara membunyikan, pasca kentongan dipukul. Pukulannya dilakukan berulang dengan ketukan teratur. “Itu kalau untuk pertanda waktu sembahyang,” kata Kamal.

Lain dengan cara memukul bedug untuk mengawali buka puasa. Bedug akan dipukul lebih keras dan lama. Begitu juga saat menjadi pengingat waktu sahur. Setiap Ramadan, pukul 00.00 digaungkan secara keras dan ketukannya cepat. Kurang lebih selama 15-30 menit.

“Kalau saat sahur bedug dipukul dua orang di kedua sisinya secara bersamaan. Dipukul keras-keras,” terangnya. Bedug ketika digaungkan dapat terdengar hingga 500 meter.

Dikatakan, untuk menjaga kelestarian bedug tiap tahunnya pengelola masjid melakukan revitaslisasi belulang maupun bagian penutup bedug. Termasuk balok kayu yang saat ini hampir keropos. “Nanti segera kami ganti,” ucapnya.
Menurutnya, bedug menjadi komponen penting menghidupkan suasana Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning. Tidak hanya mengangkat nilai sejarah kaitannya dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Melainkan sebagai pertahanan fisik dan spiritual. “Kalau petugas khusus pemukul bedug ada tiga,” tambahnya.

Supriyadi mengaku sudah puluhan tahun menjadi pemukul bedug di masjid ini. Dia memahami betul bagaimana memukul bedug dengan baik. Meski usianya sudah 80 tahun, dia masih semangat memukul bedug. “Memukul bedug harus fokus dan pukulannya tepat agar gemanya bagus,” bebernya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#bedug