Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Konser Yogyakarta Royal Orchestra, Selebrasi Hari Penegakan Kedaulatan Negara

Editor News • Kamis, 31 Maret 2022 | 03:22 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Berdasarkan Keputusan Presiden RI Joko Widodo Nomor 2 Tahun 2022, 1 Maret ditetapkan sebagai Hari Besar Nasional dengan nama Hari Penegakan Kedaulatan Negara (HPKN). Hari tersebut memperingati upaya para pejuang dan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia. Salah satu inisiasinya berupa Serangan Oemoem 1 Maret 1949.
Sebuah konser bertajuk Selebrasi Hari Penegakan Kedaulatan Negara berlangsung di Istana Kepresidenan Jogjakarta, Rabu malam (30/3). Dimeriahkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Konser ini merupakan wujud kerjasama Pemprov DIJ dengan Kementerian Dalam Negeri sebagai pemrakarsa usulan, Kemenpolhukam, Kemensetneg, Kemenhan, Kemensos, Kemenkum HAM, dan Kemendikbud Ristek.
"Dalam mensyukuri momentum ini, hendaknya Semangat 1 Maret 1949 itu, kita aktualisasikan dalam konteks masa kini, bahwa etos kejuangan itu perlu terus-menerus dihidupkan sebagai sumber kekuatan semangat kebangsaan karena satu hal yang sama sekali tak boleh berubah ialah jiwa dan semangat kita sebagai pejuang, yang menuntut konsistensi di arus global yang semakin kompleks dan dinamis ini," jelas Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dalam sambutannya di konser Selebrasi HPKN di Istana Kepresidenan Jogjakarta, Rabu (30/3).
HB X menuturkan setiap bangsa memerlukan peristiwa bersejarah untuk dikenang. Guna membangun kepercayaan diri dan mengukuhkan jatidiri bangsa. Namun hendaknya juga tidak mengagungkan mitos. Terutama dalam memitoskan pahlawan dan menjadikan mereka sebagai sosok Wong Agung.
Sebuah peristiwa sejarah yang dilingkupi semangat primordial,anjut HB X, justru akan mengeruhkan perjalanan batin. Khususnya dalam memaknai identitas bangsa dalam perjalanan ke depan. Menurutnya, kesadaran sejarah perlu digali dan kemudian dijadikan sebagai pemandu.
"Daya nalar kita menjadi beku, tanpa bisa menarik pelajaran dari kesuksesan dan kegagalan para pendahulu bangsa," katanya.
Konser kali ini membawakan enam repertoar. Seperti Indonesia Pusaka, Tanah Airku, Sepasang Mata Bola, Mars Jogja Kembali, Jogjakarta, dan Himne Serangan Umum 1 Maret.
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat KPH Notonegoro Himne Serangan Umum 1 Maret ini merupakan Yasan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Terinspirasi dari peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1949.
"Himne ini diciptakan untuk format choir dan orkestra, dengan lirik berbahasa Jawa yang terinspirasi dari Sekar Macapat Durma," paparnya.
Himne Serangan Umum 1 Maret diciptakan untuk format choir dan orkestra. Wujud kolaborasi idiom musik Jawa yaitu Laras Pelog Patehet Barang dengan medium musik klasik Barat. Nuansa dalam lagu ini dibangun dengan maksud untuk menyampaikan perjuangan kala itu.
"Rasa cemas, haru, tertantang, geram, dan bercampur rasa nasionalisme yang pada saat itu dirasakan oleh para pemimpin bangsa Indonesia dan seluruh pejuang yang sedang membela kedaulatan negara pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949," ujar KPH Notonegoro.
Penetapan 1 Maret sebagai Hari Besar Nasional telah melalui proses panjang. Pemprov DIJ melalui Kundha Kabudayan DIJ telah memulai usulan penetapan sejak 2018. Hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah pusat sebagai hari Nasional.
"Peristiwa Serangan Umum 1 Maret tersebut dinilai memiliki makna penting bagi penegakkan dan pengakuan. kedaulatan negara baik dari dalam maupun dari luar, karena peristiwa ini membuka mata dunia internasional bahwa Indonesia masih ada dan mampu memberikan perlawanan kepada Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia," kata Kepala Kundha Kabudayan DIJ Dian Lakshmi Pratiwi.
Serangan tersebut selanjutnya membuka jalan perundingan antara Belanda dan Indonesia. Serangan Umum 1 Maret 1949 ini adalah peristiwa nasional yang melibatkan berbagai komponen bangsa. Diantaranya Laskar Sabrang yang berasal dari Sumatera, Sulawesi, dan Bali. Hingga rakyat biasa, pelajar, pejuang, keraton, TNI dan Kepolisian.
"Peristiwa Serangan Umum ini merupakan rangkaian panjang dari peristiwa-peristiwa sejarah yang mendahului dan mengikutinya, sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, sampai dengan pengakuan kedaulatan negara oleh Belanda, dan kembalinya tekad komponen bangsa untuk meninggalkan federalisme kembali ke NKRI," tambah Dian Lakshmi. (*/Dwi) Editor : Editor News
#Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat #Yogyakarta Royal Orchestra #Hamengku Buwono X #Serangan Umum 1 Maret 1949 #Hari Penegakan Kedaulatan Negara