WULAN YANUARWATI, Jogja, Radar Jogja
“Karena nyuwun sewu, kalau kita hanya sekadar jadi pegawai negeri, nanti setelah pensiun akan ditanya oleh diri sendiri. Sakjane sudah berkontribusi apa to?,” ujar Pak Djo, panggilan akrabnya saat ditemui Radar Jogja di kantornya, Museum Sonobudoyo Jogja, kemarin (29/3).
Pertanyaan itu selalu mengganggu pikirannya. Ditambah keprihatinannya karena mulai tergerusnya budaya Jawa dan diganti dengan budaya populer. Menurutnya, harus ada langkah nyata untuk mengantisipasi hal itu.
“Alasannya, sebetulnya prihatin pakai banget. Kami nek sekadar prihatin ora bakal mrantasi, satu-satunya jalan beraksi mewujudkan itu,” tambahnya.
Maka dari situ lahir komunitas Mangsi Biru yang ia gagas tahun 2017 bersama rekan-rekannya. Berbagai acara digelar, mulai dari membuka kelas asik belajar aksara Jawa, workshop, membuat pameran, hingga roadshow.
“Tahun 2017 kami sudah punya rasan-rasan kerena kalau bisa sinau bahasa Jawa lagi. Kita mencoba kembali, apakah ada kursus aksara Jawa, ternyata di Jogja cuma ada dua. Akhirnya ngelumpukke teman-teman belajar bareng, yang kemudian menjadi cikal bakal komunitas Banyu Mangsi,” jelasnya.
Pada saat itu, Banyu Mangsi hanya beranggotakan 10 orang dengan dipimpin seorang ketua kelas. Sekarang sudah berkembang dengan anggota dengan latar belakang yang berbeda. Ada ibu rumah tangga, arkeolog, mahasiswa, seniman, bahkan pengangguran.
Menariknya, tidak semua anggota berasal dari Jogja. Bahkan ada yang tidak bisa bahasa Jawa sekalipun. Hal ini menandakan minat orang terhadap aksara Jawa lambat laun bermunculan.
“Kami bentuk ketua kelas orang Minang. Bahasa Jawa gak bisa, tapi karena intens jadi belajar. Yang penting, pokoknya adalah keinginan karena kami berhasil menunjukkan tidak harus orang Jawa untuk mempelajari aksara Jawa,” jelasnya.
Metode pengajaran aksara Jawa pun unik dan menarik. Disesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya peserta diajak jalan-jalan ke tempat yang kekinian. Selain itu juga ada metode bercerita. Misalnya ia akan bercerita tentang kebiasaan orang zaman dahulu memberi bunga dan kemenyan di area rumah.
“Orang tua kalau ditanya menjawab untuk makani sing mbaurekso. Padahal nilai ilmiahnya tidak seperti itu, jauh dari itu. Karena itu ilmu antidisinfektan, antiserangga, penjaga suhu. Pada saat bunga membentuk gas eter kemudian bersenyawa dengan air, menjadi antidesinfektan,” jelasnya.
Lalu, lanjut Pak Djo, kemenyan klenik tidak. “Ya kita jelaskan bahwa menyan yang dibakar, apabila tercium maka hormon serotonin muncul dan bikin bahagia,” tambahnya.
Apabila dipertanyakan dasar dari cerita itu, maka akan diarahkan ke naskah Jawa yang sudah ada. Dari situlah pembelajaran aksara Jawa dimulai. Sehingga belajar aksara Jawa juga membuka literasi lain. Bahwa klenik yang biasa disebutkan, sebetulnya ada penjelasan ilmiahnya.
“Kita kenalkan dulu cerita itu, lalu ini lho naskahnya, bisa baca enggak? Lalu diajari aksara Jawa. Kita ada buktinya, karena ada dasarnya. Hal seperti itu yang kita kembangkan,” ujarnya.
Menurutnya, apabila memberi pelajaran mempergunakan pemahaman filosofi, maka generasi muda tidak akan tertarik. Maka nilai-nilai ilmiah tadi sengaja ditonjolkan. Aksara Jawa hanya sebagai pintu pembuka untuk pengetahuan yang lebih luas lagi. Hal ini harus digarisbawahi.
“Kami tidak mempelajari filosofi, anak muda tidak akan tertraik. Kami mempelajari tata nilai ilmiahnya. Dalam perkembangannya, aksara hanya pintu masuk,” tandasnya.
Lebih lanjut Pak Djo mengatakan kecintaannya terhadap budaya Jawa bermula saat menjadi ASN di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Jogja sekitar tahun 2000. Meski setelah itu dilakukan mutasi ke beberapa dinas, ia terlanjur jatuh cinta.
“Saya bukan budayawan, orang ISI (Institut Seni Indonesia, Red) atau orang antropologi. Waktu bekerja ditanya, banyak hal tidak tahu akhirnya memaksa diri untuk mendapatkan pengetahuan itu. Semakin ke sini menarik. Jatuh cinta karena ternyata keren,” ujarnya.
Ia berharap pembelajaran yang terkait dengan sejarah dan budaya dapat dilakukan dengan literasi melalui naskah kuno. Agar stigma segala hal yang ditinggalkan nenek moyang adalah klenik dapat ditepis. Apalagi peninggalan-peninggalan itu dapat dijelaskan secara ilmiah melalui naskah yang ada. Tentu saja dimulai dari belajar Aksara Jawa sebagai gerbang pembuka. (laz) Editor : Editor Content