Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gelar Pijat Gratis, Upaya Bangkit Terdampak Pandemi

Editor Content • Senin, 28 Maret 2022 | 17:04 WIB
BAKSOS: Sebanyak 16 anggota Pertuni Sleman menggelar pijat gratis di Kantor DPC Pertuni, Padukuhan Nogosaren, Nogotirto, Gamping, (27/3).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
BAKSOS: Sebanyak 16 anggota Pertuni Sleman menggelar pijat gratis di Kantor DPC Pertuni, Padukuhan Nogosaren, Nogotirto, Gamping, (27/3).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA - Inilah aktivitas belasan anggota Persatuan Tunanetra Indoensia (Pertuni) Kabupaten Sleman di Kantor DPC Pertuni, Padukuhan Nogosaren, Nogotirto, Gamping, kemarin (27/3). Mereka melakukan pijat gratis kepada puluhan warga setempat. Aksi ini sebagai wujud bakti sosial sekaligus promosi, siap bangkit kembali menyambut pelanggan.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Sejak pukul 09.00 pagi, belasan anggota Pertuni Sleman sudah siap menunggu kehadiran warga yang menginginkan pijat gratis. Mereka siap menjamu pelanggannya dalam kegiatan bakti sosial (baksos) ini. Satu demi satu pengunjung masuk, memilih pemijat mana yang diinginkan.

Abdi Maryono, 70, lansia Padukuhan Nogosaren RT 9, Nogotirto, Gamping, merupakan pengunjung pertama perempuan yang melakukan pijat. Dan dia mempercayakan pemijatannya kepada seorang tunanetra bernama Yayuk Sri Rahayu, 47, warga Padukuhan Jambon, Trihanggo, Gamping. Bagi Abdi, ini kali pertama melakukan pijat pada Yayuk.

“Kaki saya pegel-pegel. Kalau buat jalan dengkule (lutut) kayak digandoli watu (digantungi batu, Red),” keluh Abdi kepada Yayuk. Lantas Yayuk mengeluarkan hand body lotion dari tasnya. Benda berwarna putih itu dioleskan di kaki Abdi, sambil dia mengurutnya perlahan. Mulai dari lutut hingga telapak kaki. “Enak Mbah?,” tanya Yayuk yang dibalas Abdi dengan anggukan kepala dan senyuman.

Kepada Radar Jogja, Yayuk menerangkan, pijat itu untuk capek-capek. Menurutnya, otot-otot di badan Mbah Abdi kencang karena tak pernah dipijat. Itu sebabnya badan pegal-pegal dan kadang kala sakit di persendian. Dengan pijat, badan terasa lebih ringan, bahkan dapat merilekskan saraf yang tegang.
Yayuk menceritakan, sudah 23 tahun lalu menggeluti dunia pemijatan setelah lulus SMA Pembangunan Bugisan, Kota Jogja. Lulus SMA dia memutuskan mencari pekerjaan di Bandung, Jawa Barat. Karena mencari pekerjaan baginya sulit, oleh Dinas Sosial Bandung, dia mendapatkan pembinaan keterampilan melalui sekolah khusus pijat.

Dia mempelajari fisiologi, anatomi tubuh, dan dilatih menangkap kepekaan otot tubuh yang bermasalah dan normal melalui indera peraba. Dia juga telah mengantongi sertifikat pijat. Pasca 13 tahun menjalani pekerjaan sebagai tukang pijat di Kota Kembang itu, pada 2011 dia memutuskan pulang ke kampung halamannya di Trihanggo.

Ia kemudian membuka panti pijat di rumahnya yang diberi nama pijat fisio terapi Sumber Rahayu. Namun dua tahun belakangan perjalanan profesinya tak lagi mulus. Satu-satunya pekerjaan yang dia lakoni tutup di awal pandemi Covid-19. Selama lima bulan dan terancam tutup ketika pengetatan menjaga jarak dan rasa ketakutan pelanggan terhadap penularan Covid-19. Pada saat itulah dia hanya menggantungkan uluran tangan dari pemerintah dan siapa pun. “Alhamdulillah cukup tertolong,” katanya.

Melalui bakti sosial pijat gratis ini dia berharap, menjadi titik awal untuk dapat kembali bangkit menjalani profesinya. “Sekaligus ajang promosi agar pelanggannya kembali meningkat,” katanya.

Dituturkan, pada 2022 usahanya mulai diminati lagi. Perlahan pelanggannya kembali. Meski tak seintensif dulu sebelum pandemi. “Sudah mulai ada (pelanggan, Red). Paling tidak dua, tiga hari pelanggannya ada satu,” sebutnya. Berbeda dari 2019, setiap hari dia mampu mendapatkan minimal satu pelanggan dengan tarif Rp 65 ribu hingga Rp 70-an ribu per dua jam.

Sementara itu, Ketua Pertuni Sleman Indra Saputra mengatakan, ada 16 anggota Pertuni yang terlibat dalam bakti sosial pijat gratis ini. Latar belakang kegiatan ini dilakukan untuk memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-56 Pertuni pada 26 Januari lalu.

Selain itu, juga untuk membangkitkan lagi semangat Pertuni yang berprofesi sebagai penyedia jasa pijat urut. “Sekaligus jadi ajang promosi mendekatkan kembali pemijat dengan pelanggan, menambah pemasukan ekonomi bagi seluruh anggota Pertuni,” tambah Indra.
Disebutkan, total ada 80 anggota Pertuni Sleman. Mayoritas berprofesi sebagai penyedia jasa pijat. (laz) Editor : Editor Content
#Sleman #Pijat Gratis