“Dalam kegiatan ini, kami membuat wayang suket, karena suket kan dekat dengan ekologi masyarakat,” ujar Koordinator Acara Hangno di sela kegiatan ini. Dikatakan, bahan untuk membuat wayang suket berasal dari rumput mendong.
Dalam acara ini, mereka membuat wayang laki-laki dan perempuan. Menurutnya, jika yang baru kali pertama membuat wayang dari suket ini akan membutuhkan waktu setengah jam. Ketika sudah mahir, hanya butuh lima menit saja.
Hangno menambahkan, kegiatan ini sengaja dilakukan di Titik Nol agar diketahui orang yang sedang lalu-lalang. “Supaya masyarakat yang lewat tahu bahwa ada kegiatan atau komunitas yang mencintai wayang dengan cara sederhana,” katanya.
Ketua Komunitas Wayang Merdeka Miko mengatakan, kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap bulan. Setiap bulan akan berbeda bahan pembuatan wayang dan lokasi pembuatannya. Ke depan diharapkan berbagai wayang itu akan dikumpulkan dalam suatu pameran. “Ini melatih kreativitas dan menumbuhkan cinta atas simbol-simbol yang dititipkan leluhur dalam filsafat wayang,” ujarnya.
Bukan hanya orang tua saja yang mengikuti kegiatan ini, tetapi juga anak muda. Salah seorang peserta workshop Zaki, 22, mengatakan, kegiatan yang diikutinya ini merupakan pengalaman baru.
Ia kebetulan sedang melintas di Nol Km, lalu tertarik dan ikut. “Awalnya agak sulit, tapi setelah tahu teknik pola pembuatannya, jadi gampang,” ujar mahasiswa asal Pekalongan, Jateng, ini. (cr5/laz) Editor : Editor Content