Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Japanese Pop Culture Masih Digandrungi

Editor Content • Sabtu, 26 Maret 2022 | 13:44 WIB
KEMBALI BANGKIT: Jam operasional Pasar Gentan dibatasi hanya sampai pukul 12.00. Protap ini berlaku juga di pasar-pasar tradisional lainnya. (ELANG KHARISMA/RADAR JOGJA )
KEMBALI BANGKIT: Jam operasional Pasar Gentan dibatasi hanya sampai pukul 12.00. Protap ini berlaku juga di pasar-pasar tradisional lainnya. (ELANG KHARISMA/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA - Budaya Jepang atau Japanese Pop Culture jadi salah satu tren yang digemari berbagai kalangan di Indonesia. Mulai dari film, musik, anime hingga manga atau komik. Selain mengoleksi segala hal berbau jejepangan, mereka juga berdandan dan bergaya ala karakter anime yang disukai. Seperti dilakukan Amu Risa.

Perempuan 22 tahun ini bercerita mulai menyukai budaya Jepang sejak duduk di bangku TK. Sang nenek yang kala itu mengenalkan Amu kecil dengan dunia anime. “Awal suka anime itu dulu kata ortu, ari-ari saya yang dikubur katanya dimasukin komik Doraemon sama nenek. Mungkin gara-gara itu malah jadi suka. Nenek dan saudara juga hibahin komik Doraemon dan Sinchan buat dibaca,” kata Amu kepada Radar Jogja Jumat (25/3).

Dari situ kecintaan Amu terus tumbuh hingga saat ini. Bahkan, kini sudah ratusan komik yang ia koleksi. Sementara serial anime yang jadi favoritnya yakni Durarara, Gintama SAO, dan Digimon Adventure.

Photo
Photo
(AMU RISA FOR RADAR JOGJA)

Alasannya? “Durarara itu karena karakternya ada banyak dan plotnya unik maju mundur. Gintama sukanya karena kadang lucu, serius, dan bikin sedih. Kalau Digimon karena dari kecil suka nonton, beli CD dan main gamenya,” terangnya.

Kecintaannya terhadap anime kian kuat. Amu bahkan mengaplikasikan kegemarannya dengan menjadi costum player (cosplay). Atau berdandan meniru beragam karakter anime favorit. “Sejak 2016 pas SMA mulai cosplay sampai sekarang dan karakter cosplay pertamaku itu gou matsuoka-free. Pas 2018, saya join idol cover jadi nyanyi sambil ngedance,” kenangnya.

Berbagai event bertema Jepang rutin dia ikuti. Antara lain, Mangafest 2016-2019, Karawang Idol Festival, World Cosplay Summit ICGP 2021 dan masih banyak lagi. “Tahun lalu di World Cosplay Summit ICGP, Cameo Cosplay ChainsawMan dapat award best concept bertiga sama tim,” papar Amu.

Hanya jika ditanya segila apa dirinya terhadap jejepangan, dia mengaku kecintaannya terhadap budaya Jepang masih dalam tahap yang wajar-wajar saja. “Nggak sampai yang gila banget sih, yang apa-apa harus Jepang dan Jepang yang terbaik gitu enggak. Cuma memang seleraku lebih ke Jepang saja.

Photo
Photo
(AMU RISA FOR RADAR JOGJA)

Misal anime, make up dan fashion,” ujar anak pertama dari dua bersaudara itu.

Lantas, adakah perbedaan antara anime zaman dulu dan sekarang? Soal itu, mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Jogjakarta itu punya pandangan tersendiri. Menurutnya, perbedaan yang cukup mencolok yakni terdapat pada grafis anime.

“Perkembangan zaman dan teknologi yang memengaruhi grafis. Saya sendiri kan di bidang gambar kuliahnya, jadi sangat memerhatikan perbedaan grafis anime dulu dan sekarang,” ungkapnya.

Grafis pada anime, lanjutnya, jadi salah satu hal penting dalam membantu perkembangan anime saat ini. Bahkan bisa membikin anime dikenal banyak orang. “Perkembangan grafis jadi tantangan buat animator baru, misal skill juga harus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman,” tambah Amu. (ard/laz) Editor : Editor Content
#lifestyle #Japanese Pop Culture #anime