Salah satu ide adalah pemasangan panel tenaga surya di setiap rumah. Arifin tak segan-segan mengajak masyarakat memasang teknologi konversi energi ini. Selain hemat energi juga hemat biaya dalam jangka panjang.
"Kita juga sudah mulai menyiapkan program untuk pembangkit listrik tenaga surya rooftop. Agar bisa melakukan pemanfaataan dari hemat energi. Kalau dari matahari kan gratis ya," jelasnya ditemui Hotel Sheraton Mustika Jogjakarta, Kamis (24/3).
Melimpahnya sinar matahari, menurutnya ideal untuk diubah menjadi energi. Tak sekadar investasi tapi kita menghemat dua aspek. Pertama adalah sebagai energi terbarukan dan meminimalkan pengeluaran.
"Ini gratis lho sinar matahari, sehingga harus kita manfaatkan karena melimpah. Nilai ekonomis listrik tenaga surya di rooftop juga baik," katanya.
Konversi lainnya adalah alih dari kendaraan bermotor BBM menuju listrik. Perhitungan jangka panjang, penggunaan motor listrik jauh lebih hemat dari BBM. Selain potensi habisnya BBM juga karena harganya yang tak stabil.
Arifin mengkalkulasi perbandingan motor dengan BBM dan listrik. Apabila menggunakan BBM maka membutuhkan Rp. 12 ribu hingga Rp. 24 ribu untuk menempuh 30-60 kilometer. Dalam jarak yang sama dengan motor listrik hanya Rp 7 ribu hingga Rp 14 ribu..
"Motor listrik sudah uji coba dan operasional. Mudah-mudahan ini bisa matang dan ini juga akan menumbuh kembangkan industri-industri pendukung, yaitu industri baterai, industri transmisi motornya," ujarnya.
Penjajakan selanjutnya adalah konversi kompor listrik. Dibawah PLN, program ini diawali dari masyarakat segmen menengah ke atas. Apabila sukses maka berlanjut masih ke seluruh kalangan masyarakat.
"Ya nanti itu sedang dirancang oleh PLN ya. Entah kompornya yang dibantu ya. Nah yang penting memang mungkin kita masuk ke segmen yang memang segmen ini dulu menengah ke atas," katanya.
Disatu sisi Arifin mengakui peralihan energi tidak bisa serta merta. Pertimbangan utama adalah agar tak membebani masyarakat. Justru sebaliknya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi baru.
Dia tak menampik bahwa transisi energi ini membutuhkan biaya yang tinggi. Hanya saja, proyeksi ini adalah investasi yang diperlukan untuk masa depan. Termasuk dukungan kepada sektor industri.
"Misalnya dampak kalau kita tidak melakukan transisi, industri-industri kita outputnya akan berdampak pajak karbon di luar (negeri) akibatnya produknya tidak kompetitif, akibatnya harus tutup pabriknya atau mereka akan pindah keluar," ujarnya.(Dwi) Editor : Editor News