Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berawal dari Bosan, Kini Banyak Teman dan Kenalan

Editor Content • Kamis, 24 Maret 2022 | 15:02 WIB
CIRI KHAS: Penampilan Wik Wik Ambyar saat menghibur pejalan kaki di jalur pedestrian Malioboro belum lama ini. Meski pengamen di Malioboro dia kerap diminta tampil di televisi nasional.(WINDA ATIKA IRA P/RADAR JOGJA)
CIRI KHAS: Penampilan Wik Wik Ambyar saat menghibur pejalan kaki di jalur pedestrian Malioboro belum lama ini. Meski pengamen di Malioboro dia kerap diminta tampil di televisi nasional.(WINDA ATIKA IRA P/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Menjadi seorang barista tak sekadar bisa meracik kopi saja. Banyak hal lain yang juga harus dikuasai. Hal itu sudah dipraktikan Deny Ilham. Dari awalnya pecinta jadi barista dan kini mengelola outlet kopi. Seperti apa kisahnya?

WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja

Tangan Deny Ilham sudah terampil untuk meracik berbagai jenis biji kopi. Untuk diolah hingga menghasilkan berbagai jenis minuman kopi. Deny Ilham pun menyambut Radar Jogja, lengkap dengan atribut seorang barista. Meski tetap sibuk meracik kopi di sebuah outlet kopi 'Senja' yang terletak di Jalan Kemetiran Timur, Kota Jogja, Rabu (23/2).

Pria berkulit putih itu pun awalnya merupakan seorang pecinta kopi. Hingga karena tuntutan finansial, pria muda kini menekuni hobi meracik kopi hingga menjadi profesi utamanya sebagai barista. Kini, Deny Ilham berhasil mengelola satu outlet minuman serba kopi di Kota Jogja. Terjun di bidang hospitality menjadi pekerjaan yang menyenangkan baginya.

Deny, awalnya merasa terpaksa terjun di dunia perkopian, karena faktor kebutuhan utamanya finansial. Kini, dia menyandang supervisor yang dipercaya mengelola outlet kopi 'Senja' yang baru berdiri 2 Februari lalu di Kota Jogja. "Karena kesempatan itu ada, saya ingin mencoba hal baru itu," katanya kepada Radar Jogja ditemui di outlet.

Jenuh dan bosan, sempat dirasakan pria muda 25 tahun karena aktivitasnya yang begitu-begitu saja bergelut dengan mesin kopi. Tetapi, rasa itu berhasil dikalahkan karena bisnis jasa yang sangat bergantung pada pelayanan tamu itu menyenangkan baginya. Customer, menjadi alasan utama ia harus bertahan. "Mungkin ini jawaban dari pikiran saya (saat merasa jenuh dan bosan sehari-hari). Untuk menentang hal bosan ambil kesempatan baru ini, ya karena ternyata menyenangkan kalau kita enjoy," ujarnya.

Dunia hospitality bagi anak kedua dari dua bersaudara itu dinilai menarik. Bertemu dengan banyak orang dari segala bentuk dan karakter, mulai yang sudah paham kopi hingga yang tidak paham kopi sama sekali. Di dunia ini, membuat ia merasa luas memiliki relasi dan pertemanan. Dari awalnya hanya sebatas customer, lama-lama menjadi teman satu tongkrongan. "Enaknya barista ketemu orang-orang asik dan menyenangkan. Kayak kita say hi, hello mereka nggak akan malu ketika kita kasih sapaan. Jadi banyak teman dan kenalan," jelasnya.

Namun, kini di samping ia masih sebagai barista pekerjaannya saat ini fokus mengelola outlet yang baru saja berdiri. Tanggung jawabnya menjadi banyak berbeda, sebelumnya fokus meracik kopi saja. Saat ini harus mengelola sumber daya manusianya. Banyak hal yang berbeda, ini menjadi pelajaran baru baginya. "Awalnya ego diri sendiri, sekarang harus tidak mementingkan ego sendiri, karena saya juga mengatur SDM," terangnya.

Pria kelahiran Purworejo itu sudah menyukai kopi sejak masih remaja. Mulai kopi sachet, hingga kopi robusta, arabika dan masih banyak lagi. Dari situ, ia memutuskan menjadi barista sejak 2019 lalu. Sebelumnya, ia bekerja salea, maupun karyawan di supermarket. "Dari situ dimulai eksplorasi menarik. Ternyata kopi itu nanti beda profil, roasting, juga beda cita rasa. Dari situ ada rasa ketertarikan, akhirnya tertarik lama-lama kok menarik dicoba dan enjoy. Sekarang hobi jadi pekerjaan," tambahnya. (pra) Editor : Editor Content
#Jogja