Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Yuli Astuti, Roaster Perempuan Asal Jogja

Editor Content • Selasa, 15 Maret 2022 | 14:10 WIB
OVERTHINKING: Yuli Astuti menggunakan skill memasak kopi atau roasting agar tetap mendapatkan penghasilan di masa sulit seperti pandemi saat ini.(DOKUMEN PRIBADI)
OVERTHINKING: Yuli Astuti menggunakan skill memasak kopi atau roasting agar tetap mendapatkan penghasilan di masa sulit seperti pandemi saat ini.(DOKUMEN PRIBADI)
RADAR JOGJA - Yuli Astuti tak menyangka akan terjun ke dunia perkopian dengan menjadi seorang roaster atau pemasak kopi. Berlatar belakang pendidikan akuntansi, perempuan 34 tahun asal Jogja ini seperti terjebak di tempat yang benar.

WULAN YANUARWATI, Jogja, Radar Jogja

Sebagai akuntan di salah satu perusahaan tour and travel di Jogja, Yuli ikut terhantam pandemi dan masuk dalam daftar karyawan yang dirumahkan. “Saya anak kantoran back office akunting di tour and travel, karena pandemi lalu di rumahkan. Terjebak di tempat yang benar, bisa jadi ya,” ujarnya kepada Radar Jogja Senin (14/3).

Yuli mengatakan awalnya menjadi seorang barista untuk mengisi waktu luang dari sore hingga malam usai bekerja kantoran sebagai akuntan. Namun Pak Aik, owner kedai kopi Slurp Jogja, tempatnya kerja part time, justru memaksanya untuk ikut pelatihan sebagai roaster agar bisa upgrade diri di dunia kopi. “Awalnya dipaksa ikut pelatihan sama pemilik kedai sebelumnya. Didaftarin dan dikasih tahu malam sebelum pelatihan,” ujarnya.

Yuli mengaku beruntung karena mendapat kesempatan belajar hal baru. Waktu yang tepat, sebab saat dirumahkan karena pandemi Covid-19, dia dapat menggunakan skill memasak kopi atau roasting agar tetap mendapatkan penghasilan di masa sulit.

“Mulai resmi megang mesin Februari 2020, tapi sebelumnya pelatihan dan beberapa kali roasting tahun 2019,” ujarnya. Ia menceritakan, pengalaman belajar roasting dadakan yang membuatnya overthinking. Bukan hanya dituntut untuk bisa presisi dalam menghitung waktu dan suhu saat memasak green bean. Namun juga harus paham karakter bean, sehingga dapat dimasak sesuai roast plan dan menghasilkan biji kopi yang matangnya pas.

Biji kopi yang matang sempurna sesuai keinginan akan menghasilkan secangkir kopi nikmat. “Waktu itu beliau bilang awas kalau ga belajar beneran. Saya mumet (pusing, Red) jadi roaster karena semua ilmu masuk dari hitungan, kimia, fisika main. Kimia paling dominan karena ada perubahan senyawa. Intinya overthinking. Tapi ya udah ikut aja, ternyata bisa,” jelasnya.

Menurutnya, proses roasting merupakan salah satu tahapan penting untuk mendapatkan minuman kopi nikmat. Pertama, sebanyak 60 persen tergantung biji kopi hasil kebun yang diolah petani, lalu 30 persen dari hasil roasting, dan 10 persen tergantung dari racikan barista.

“Kalau yang udah profesional akan ngulik di rasa apa yang mau ditonjolin sweetness-nya, acid-nya, body-nya. Menentukan kopi ini mau dibawa ke mana,” ujarnya.

Selain tantangan teknis, tantangan stigma bahwa mayoritas profesi roaster pada waktu itu didominasi oleh laki-laki, juga masih ada. Yuli berupaya untuk dapat membuktikan dan memegang kepercayaan yang telah diberikan oleh bosnya.

“Pak Aik mau bikin roastery yang ditonjolin roaster perempuan. Bukannya sexist ya, tapi kerja itu fisik banget terus biasanya kalau berhubungan sama mesin, waktu itu masih jarang ya perempuan. Bapak itu termasuk empowerment women, setara antara laki-laki perempuan,” papar Yuli.
“Bagian gimic dan branding juga karena di Jogja waktu itu masih jarang roaster cewek dan pelatihan waktu itu sebagian besar dari deklarasinya Pak Aik,” tambahnya.

Namun rencana membuat roastery dengan roaster perempuan mandeg saat ownernya sakit dan meninggal dunia. Meski begitu, Yuli merasa sangat beruntung telah dipaksa untuk belajar. Hingga saat ini dia terus berupaya dan menjadi roaster yang profesional.

Sebagai roaster dia merasa bahagia karena dapat memasak biji kopi terbaik dan bisa dinikmati semua orang. Melihat orang lain menyeduh kopi hasil roastingnya dan bahagia, tentu membuat Yuli merasa ikut bahagia.

“Beruntung dapat kesempatan belajar dan lanjut, dan ternyata ga berjalan sesuai rencana karena Pak Aik sakit dan meninggal. Waktu itu konsep roastery perempuan dan namanya sudah ada, Srikandi Roastery. Digagas berdua. Bikin bisnis plan dan roaster kamu dan aku. Kita tonjolin ceweknya. Gitu katanya,” ujar Yuli sambil mengenang Pak Aik.

Harapan mendirikan Srikandi Roastery barangkali masih melekat di hati Yuli. Selain meneruskan cita-cita, juga sebagai pengingat Pak Aik yang telah membimbingnya selama ini. Dia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga situasi stabil dan bisnis kopi terus berkembang. (laz) Editor : Editor Content
#Jogja