Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita HB IX Lolos Dari Upaya Pembunuhan

Editor News • Rabu, 2 Maret 2022 | 05:37 WIB
BERCERITA : Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X menceritakan kisah almarhum ayahnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) yang lolos dari upaya pembunuhan di Ngawi, Jawa Timur. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
BERCERITA : Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X menceritakan kisah almarhum ayahnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) yang lolos dari upaya pembunuhan di Ngawi, Jawa Timur. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X menceritakan kisah almarhum ayahnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) yang lolos dari upaya pembunuhan. Terjadi pada 10 November 1948, saat stabilitas keamanan Indonesia belum maksimal.

Berawal saat HB IX akan menuju Surabaya Jawa Timur bersama Raden Mas Ario Soerjo. Sosok ini adalah Gubernur Jawa Timur. Sebelum berangkat ke Jawa Timur, keduanya sepakat untuk mampir ke Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran.

"Pada saat itu suwargi ke-9 (HB IX)  sebagai Menteri Pertahanan dimohon sama Gubernur Jawa Timur, Bapak Suryo untuk bersama-sama datang ke Jawa Timur saat 10 November. Untuk memberikan support kepada pejuang-pejuang Republik," jelas HB X usai pembacaan Keppres Nomor 2 Tahun 2022 di Tetenger Serangan Oemoem 1 Maret 1949, Keben Keraton Jogjakarta, Selasa (1/3).

Keduanya berangkat dengan kendaraan masing-masing. Hingga akhirnya tiba di Kasunan Surakarta kemudian berangkat ke Kadipaten Mangkunegaran. Tapi setibanya di lokasi kedua, Gubernur Soerjo pamit untuk berangkat terlebih dahulu.

Kepergian Gubernur Soerjo dengan alasan untuk menyiapkan penyambutan HB IX. Tepatnya di lokasi kedatangan di Stasiun Gubeng, Kota Surabaya Jawa Timur. Saat perjalanan itu ternyata Gubernur Soerjo terlebih dahulu dicegat oleh gerombolan di daerah Ngawi Jawa Timur.

“Beliau (HB IX) setelah dari Keraton Solo berangkat ke Jawa Timur. Sampai Ngawi dicegat sama pengikut Musso dan ditanya, kamu Sultan Jogja? oh bukan, saya bukan sultan Jogja. Dan dilepas,” katanya.

HB IX, lanjutnya, langsung melanjutnya perjalanan ke Stasiun Gubeng Jawa Timur. Setibanya di sana baru mengetahui bahwa Gubernur Soerjo telah menjadi korban pencegatan. Sosok tersebut ditembak oleh gerombolan pencegat di kawasan Ngawi.

“Baru sampai Gubeng, tahu pak Suryo (Soerjo) kena di Ngawi, ditembak di Ngawi. Aa yang terjadi, ternyata mobilnya berubah, mobilnya Sri Sultan dipakai pak Suryo (Soerjo), mobilnya pak Suryo (Soerjo) dipakai suwargi ke-9 (HB IX),” ceritanya.

HB X sempat bertanya kepada ayahnya, HB IX, terkait perubahan mobil tersebut. HB IX justru menjawab tidak mengetahui mobilnya telah berubah. Sehingga dugaan awal, gerombolan pencegat memang mengincar sosok HB IX pada awalnya.

“Saya tanya saat itu kenapa bisa berubah, saya juga tidak tahu, kenapa mobil saya yang dipakai pak Suryo (Soerjo). Sebetulnya pak Suryo (Soerjo) itu salah sasaran gitu,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News
#Musso Madiun #Sri Sultan Hamengku Buwono X #Jogjakarta #Pemberontakan Musso