Warga Budegan II RT 06/11, Piyaman, Wonosari Anjar Ardhityo memiliki cerita permainan kapal yang melaju di atas air dalam sebuah bak. Dia ingat saat lupa makan gara-gara duduk berjam-jam di depan baskom berisi air. "Bunyi otok-otok muncul saat kapal itu melaju di atas air dalam baskom," kata ayah satu anak ini.
Mainan khas jaman dulu itu dibeli orang tuanya di depan Pasar Tradisional Argosari Wonosari. Kata dia, mainan yang terbuat dari kaleng dengan penggerak sumbu kapas yang terendam minyak goreng dan dibakar ujungnya sangat unik. "Bahan mainan tidak gampang rusak, dan kita bisa berimajinasi. Membayangkan sedang berlayar di lautan lepas," ujarnya.
Saking asyiknya bermain, dia mengaku sampai lupa makan. Tidak jarang ibunya harus teriak-teriak mengingatkan Anjar kecil agar segera membuka mulut. Setelahnya kembali menahkodai kapal. "Sekarang masih ada penjualnya tapi jarang-jarang. Kalau dulu gampang cari penjual kapal otok-otok," ucapnya.
Anjar masih ingat ketika sedang 'berlayar'. Selain menjadi nahkoda juga sekaligus sebagai tekhnisi. Alumnus SD Dominikus Wonosari tersebut mempelajari cara kerja kapal otok-otok supaya selamat tidak ada kenala saat perjalanan. "Saya jadi tau fungsi minyak goreng di kapal otok-otok," bebernya.
Dia menjelaskan, kapas berfungsi untuk menyerap minyak goreng dan juga sebagai sumbu. Sedangkan minyak goreng berfungsi sebagai bahan bakar kapal. Tutorialnya, pertama, siapkan baskom berisi air sebagai tempat bagi kapal untuk bergerak. "Siapkan kapal otok-otok, dan perhatikan bahwa kapal otok-otok memiliki dua bagian pada badan kapal," ucapnya.
Pada bagian pipa, masukkan sedikit air dan pada bagian pembakar masukkan kapas yang telah dibasahi dengan minyak sayur. Nyalakan kapas pada bagian pembakar tersebut dengan api dan masukkan kembali ke bagian kapal. "Selanjutnnya, kapal otok-otok mulai bergerak jika bagian pembakar kapal sudah cukup panas," ujarnya. (gun/bah)
Editor : Editor Content