Penggalan tembang itu kerap didengar masyarakat dari ujung kulon hingga ujung wetan Kota Jogja. Bahkan, tak jarang, ia juga tampil di acara televisi nasional. Semua orang tak asing dengan sosok yang membawakan tembang itu.
Namun, kini, suara dan nyanyiannya nyaris tidak pernah terdengar lagi. Di mana pun. Apalagi wajahnya. Kendati demikian, namanya masih masyhur di telinga masyarakat sekitar. Terutama bagi para seniman dan budayawan.
Sujud Sutrisno atau yang akrab disapa Sujud Kendang. Seorang musisi jalanan yang melegenda pada eranya. Meski hanya seorang musisi jalanan, kariernya tidak diragukan lagi. Ia kerap tampil di berbagai acara kesenian. Baik di Jogja, Jawa, Luar Jawa, bahkan hingga ke luar negeri.
Kemampuan mendiang Sujud sudah dibuktikan dengan debutnya di dunia seni. Khususnya musik. Salah satu kawannya, Tedjo Badut pun mengakui hal itu. Selain kepiawaiannya membawakan musik yang unik, Tedjo menilai, mendiang Sujud merupakan sosok yang andap asor, selalu menghargai orang lain, dan menjunjung tinggi rasa hormat.
Menurutnya, Sujud selalu menghormati teman yang diajak bicara. Pun selalu menjaga silaturahmi. “Sebagai contoh, setiap kali bertemu langsung ataupun lewat telepon, Kang Sujud biasanya bertanya, 'bagaimana masih tetap sehat to?' gitu,” kenang Tedjo Badut saat dihubungi Jumat (4/2).
Tedjo menceritakan, mendiang Sujud memang mengawali kariernya dengan mengamen di jalan. Door to door. Di kampung-kampung yang ada di Kota Jogja. Meski pada akhirnya, perjalanan kariernya itu mengantarkan Sujud naik ke atas panggung hiburan.
Menurut Tedjo, kawannya itu mempunyai ciri khas unik dengan bermusik menggunakan kendang. Yang notabene merupakan alat musik dangdut. Pada saat itu, tren dangdut sedang naik daun. Kendang yang digunakan pun sama. Terdapat dua sisi. Satu sisi besar dan sisi lainnya kecil. Kendang itulah yang menemani Sujud berkeliling ke kampung-kampung.
Lagu yang dibawakan Sujud cenderung unik dan lucu. Khas Jogja dengan berbagai plesetan serta iringan kendang yang berirama. Sehingga, banyak lagu-lagu Sujud yang melegenda. Semua lagunya plesetan. Memang bukan karangannya sendiri, melainkan diolah selucu mungkin, sehingga menjadi lagu humor dengan satu instrumen alat musik kendang.
Selain plesetan kata-kata, Sujud juga mengombinasikan dengan suara kendangnya. “Misal lagu anjing heli. Gukgukguk-nya dijawab lewat kendang. Pokoknya zaman itu unik dan lucu,” tuturnya.
Keunikan tersebut yang membuat mendiang Sujud kerap diikuti anak-anak kecil. Tedjo menyebutkan, selain membawa kendang, Sujud juga membawa sebuah radio untuk menemaninya berkeliling. Radio itu digunakan ketika tuan rumah ingin meminta bonus hiburan lain. Itulah kiat-kiat Sujud untuk menghidupkan suasana.
Tedjo mengatakan, mendiang Sujud punya jadwal tertentu untuk berkeliling. Dalam sehari, ia mengamen di kisaran kampung A, hari berikutnya di kampung B, dan begitu seterusnya. Dengan kata lain, Sujud akan terus berkeliling dari kampung ke kampung Kota Jogja. Sehingga merata.
Menurut Tedjo, kegiatan Sujud itu membuatnya langsung berhubungan dengan masyarakat setempat. Banyak pula yang tertarik. “Kalau ada beliau, pasti sudah ada yang teriak, 'Eh ada Kang Sujud' gitu. Yang tau beliau, pasti sudah berusia 40-an ke atas,” tambah Tedjo yang berprofesi sebagai badut itu.
Namun, lambat laun, Sujud mulai dimakan usia. Tubuh rentanya membuat stamina Sujud makin menurun. Akhirnya, Sujud tak lagi berkeliling tiap harinya. Hanya mengamen saat-saat tertentu dan semampunya.
Tedjo mengatakan, mendiang Sujud tak pernah menyebut dirinya sebagai musisi atau pengamen jalanan. Melainkan sebagai petugas pemungut pajak rumah tangga (PPPRT) atau sebuah metode berkesenian lewat silaturrahmi dari rumah ke rumah.
Meskipun sudah meninggal pada 2018 silam, Tedjo masih ingat betul beberapa kesan yang ia dapat dari sosok Sujud Kendang. Satu di antaranya mengenai konsistensi. “Sejak dulu, Kang Sujud konsisten hanya dengan menggunakan kendang. Dia bisa berkeliling Indonesia, bahkan mancanegara,” ucapnya.
Padahal, jika ditilik betul-betul, Sujud hanyalah seorang pengamen jalanan. Itulah yang menjadi motivasi Tedjo Badut untuk makin semangat dalam berkiprah di dunia seni. “Konsistensi saya berprofesi sebagai badut, terinspirasi dari Kang Sujud,” ungkapnya. (aya/laz) Editor : Editor Content