Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

24 Truk Pasir Terjebak Banjir di Sungai Boyong

Editor Content • Jumat, 4 Februari 2022 | 17:00 WIB
BELUM BEROPERASI : Suasana di dalam bioskop sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Saat ini seluruh bioskop yang ada di Sleman belum beroperasi.  Pengelola tengah menunggu rekomendasi dari  Pemkab Sleman.(RADAR JOGJA FILE)
BELUM BEROPERASI : Suasana di dalam bioskop sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Saat ini seluruh bioskop yang ada di Sleman belum beroperasi. Pengelola tengah menunggu rekomendasi dari Pemkab Sleman.(RADAR JOGJA FILE)
RADAR JOGJA - Sebanyak 24 truk penambang pasir terjebak di Sungai Boyong, tepatnya di selatan Padukuhan Turgo, Pakembinangun, Pakem, Sleman, kemarin (3/2). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 12.00 saat hujan mengguyur puncak Merapi hingga menyebabkan banjir lahar hujan di Sungai Boyong.

Beruntung tidak ada korban jiwa atas kejadian ini. Menurut anggota Search And Rescue (SAR) Kaliurang, Pakem, Winanto, truk beroperasi menangangkut pasir seperti biasanya. Pagi itu cuaca dalam keadaan cerah. Begitu siang, awan berubah mendung dan di bagian puncak Merapi sudah diguyur hujan.
Tidak lama kemudian arus sungai menjadi deras disertai material. “Sebenarnya mereka sudah tahu informasi kalau puncak mau hujan. Tetapi saat itu truk paling depan tidak bisa jalan, sehingga timbul antrean dan terjebak di sungai,” kata Winanto saat dihubungi kemarin (3/2).
Para sopir dan kenek truk sudah mengamankan diri. Mereka berteduh meninggalkan truk-truk tersebut. Dari 24 truk itu, lanjut Winanto, satu di antaranya posisi sudah miring terkena terjangan arus sungai. Beberapa bak truk juga belum penuh terisi penuh pasir. Karena tanjakan jalan masuk hilang dan tertutup air, menyulitkan proses evakuasi truk.
Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menjelaskan, truk paling depan mengalami patah as roda. Truk seketika berhenti tepat di pintu keluar masuk lintasan truk. Hal ini memicu antrean panjang truk pasir yang lain.
Proses evakuasi telah dilakukan. Karena penambang lokal, maka tidak memungkinkan mendatangkan alat berat saat itu juga. Di samping itu juga melihat kondisi yang kurang memungkinkan. Oleh karena itu, proses evakuasi dilakukan manual. Baknya dikosongkan, lalu truk ditarik dengan tali. Warga dan relawan setempat bergotong-royong menarik satu per satu truk ke daratan. “Proses evakuasi berlangsung lama. Pukul 18.00 baru selesai semua,” katanya.
BPBD selalu menekankan berdasarkan rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIJ bahwa selama aktivitas Merapi mengeluarkan awan panas untuk tidak melakukan aktivitas di sungai. Terutama sungai yang berada di arus yang sama karena risiko terjadi banjir lahar hujan.
“Salah satu asas penanggulangan bencana kan kepatuhan. Kalau warning dari pemerintah tidak dilaksanakan, maka akan ada risiko yang ditanggung, kan begitu,” tandas Makwan. (mel/laz) Editor : Editor Content
#banjir lahar dingin