Owner Gubug Rempah Dwi Sudiantono mengatakan pada awal mulanya bir pletok diciptakan sebagai minuman dingin. Julukan pletok disematkan karena proses penyampuran dengan es batu. Sehingga menghasilkan suara pletok.
“Setelah itu, saat di sajikan di dalam gelas terdapat buih di permukaan minuman. Ini menjadikan minuman tersebut sekilas mirip dengan bir,” jelasnya ditemui di Gubug Rempah Gunung Ketur Pakualaman Kota Jogja, Kamis (3/2).
Seiring berjalannya waktu, Dwi mempelajari bahwa bir pletok dalam bentuk hangat lebih disenangi pembeli. Hingga akhirnya dia memilih untuk menambah varian. Mulai dari dingin, hangat, dalam bentuk instan, racik, maupun sirup. Hal ini juga dilakukan guna memudahkan pengiriman jika pemesan berada di luar daerah.
"Paling dirasakan waktu badan lelah, mual, meriang, setelah kehujanan, pusing. Itu terasa sekali membuat tubuh menjadi lebih segar," kata Dwi.
Tak disangka, melalui usaha rumahannya ini Dwi mampu meraup untung hingga belasan juta rupiah. Terlebih di awal pandemi Covid-19. Setidaknya dia bisa meraih omzet sebesar Rp. 15 juta perbulan.
"Waktu pandemi kemarin dalam sehari di satu toko bisa menjual 100 hingga 200 pack ukuran 100 gram," ujar Dwi.
Dia juga memanfaatkan reseller dalam memasarkan produk bir pletoknya. Total hingga saat ini Dwi sudah memiliki 15 reseller dari seluruh Indonesia. Satu pack bir pletok instan ukuran 100 gram dijual dengan harga Rp. 20 ribu.
Dwi berharap, nantinya pemerintah dapat memberikan perhatian lebih. Baik dari sisi pemasaran ataupun penyediaan bahan baku.
"Kami mohon dinas pemerintah terkait tetap mengedepankan UMKM baik mereka yang merintis atau berjalan. Semoga bisa ditopang marketingnya, bahan baku bisa lebih murah," kata Dwi. (dwi) Editor : Editor News