Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Otodidak, Kerap Diragukan dan Tak Dipercaya Customer

Editor Content • Senin, 31 Januari 2022 | 14:20 WIB
JELI: Nuri sembari menelepon, juga fokus memperbaiki layar laptop yang rusak di tempat usaha jasa servis laptop dan komputer, Padukuhan Ngemplak Caban, Tridadi, Sleman (31/1).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
JELI: Nuri sembari menelepon, juga fokus memperbaiki layar laptop yang rusak di tempat usaha jasa servis laptop dan komputer, Padukuhan Ngemplak Caban, Tridadi, Sleman (31/1).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Namanya Nuri. Usianya 42 tahun. Sudah 13 tahun dia menjalani profesi sebagai tukang servis laptop dan komputer. Ia kerap diragukan dan tidak dipercaya oleh customer, hanya karena profesi itu dilakoni oleh seorang perempuan. “Ha, yang nyervis perempuan,” kata Nuri menirukan perkataan yang sering dilontarkan konsumen.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Bunyi langkah kaki mengenakan sepatu pantofel hitam cadas terdengar. Langkahnya tegas. Menuju ruangan kelas. Semakin dekat suara langkahnya, sontak siswa gaduh menjadi tenang. Ya, pemilik sepatu itu adalah seorang guru. Guru yang disegani anak-anak. Memberikan ilmu di sekolah.

Itu semua hanyalah memori kecil impian Nuri yang perlahan pudar ketika beranjak dewasa. “Waktu kecil cita-cita saya jadi guru. Saya senang dengar bunyi langkah kaki pakai sepatu pantofel,” ungkap Nuri memulai ceritanya Sabtu (29/1). Saat Radar Jogja mengunjungi bengkel sekaligus toko jasa servis laptop dan komputer di Padukuhan Ngemplak Caban, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman.

Nuri tak menyangka memiliki profesi jasa servis laptop dan komputer. Padahal dia tidak memiliki bekal khusus dari sekolah maupun saat kuliah. Saat kuliah, dia justru mengambil jurusan ekonomi di Universitas Wangsa Manggala (Unwama)) Jogjakarta yang saat ini telah berubah nama menjadi Universitas Mercu Buana (UMB), berlokasi di Jalan Wates Km 10, Sedayu, Bantul.

Dia menceritakan, 1996 kali pertama memiliki komputer PC. Saat itu dia masih berstatus mahasiswa. Problem mahasiswa yang sering dia temui adalah komputer eror ketika dibutuhkan. Sementara uang saku hanya cukup untuk makan.

Berawal dari keterbatasannya itu lah dia terbesit untuk mempelajari ilmu komputer. Mulai dari membersihkan virus, menginstal ulang, memperbaiki komponen komputer yang rusak, dan lainnya. Semakin hari rasa penasarannya terus bertambah dan makin tertantang untuk mempraktikkannya. Mulai dari membantu teman memperbaiki komputer yang eror, hingga mendapatkan pesanan.

“Semuanya otodidak. Hanya belajar lewat internet, lalu mencuri ilmu dari orang lain yang lebih ahli komputer. Tanpa kuliah,” kata dia. Saat itu itu, dia tengah membuka baut laptop yang akan digantikan layarnya dengan yang baru. Sambil mengobrol, dia pun melanjutkan ceritanya.

Dulu dia sempat menjadi pegawai bank, tapi buru-buru keluar. Tidak betah dengan sistem kerjanya. Rutinitas berangkat pagi pulang sore, tak cocok dengannya. “Habis resign saya iseng-iseng buka jasa servis lagi,” katanya.
Berkat ketekunannya dalam bekerja, satu persatu pelanggannya berdatangan.

Bahkan untuk kali pertama mendapatkan orderan besar. Melakukan servis komputer lebih dari 400 unit oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo. Ya, dia mendapatkan proyek bernilai ratusan juta untuk melakukan servis komputer di tingkat SD di bawah naungan Disdik.

Melihat peluang yang menjanjikan, dia tertarik mencari tahu suplier elemen-elemen komputer. Baru setelahnya, memantapkan diri membuka usaha jasa servis. Pada 2008 dia memberanikan diri membuka usaha jasa servis komputer dan laptop di Jalan Gejayan, Caturtunggal, Depok. Dia pun semakin mendapatkan kepercayaan dari pelanggan.

Usai meningkah dan 2018 dikaruniai anak, usahanya pindah di Tridadi, tak jauh dari GOR Pangukan. “Saat hamil, ya masih servis laptop. Saya sempat tutup enam bulan setelah melahirkan. Itu aja masih sering dihubungi untuk nyervis laptop,” katanya terkekeh.

Sosoknya yang hangat dan ramah serta hasil kerjanya yang memuaskan, banyak dicari pelanggannya. Meski pun sudah pindah lokasi, sebagian besar pelanggannya masih menggunakan jasanya. “Ada yang rela nganterin ke sini, padahal rumahnya jauh,” katanya.

Kendati 13 tahun menggeluti profesi ini, rupanya perempuan yang tak lagi muda ini kerap diragukan dan tidak dipercaya, hanya karena profesi ini dikerjakan bukan oleh laki-laki. Terutama oleh pelanggan baru. Pertanyaan siapa yang menyervis selalu dilontarkan. Bahkan beberapa pelanggan baru menayakan pertanyaan yang sama berulang-ulang. “Diragukan dan tidak dipercaya sudah menjadi makanan sehari-hari. Tetapi begitu tahu hasilnya, tak jarang mereka kembali,” ujarnya. (laz) Editor : Editor Content
#Sleman