Alhasil kegiatan PTM diliburkan selama lima hari untuk kelas yang bersangkutan. Sementara diganti dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sedangkan kelas lainnya masih tetap dilakukan kegiatan PTM.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Didik Wardaya mengatakan, telah dilakukan tracing dan testing pada seluruh siswa dan guru di SMAN 8 Jogja. Hasilnya diklaim tidak ada penularan di sekolah."Sementara menutup dua kelas tersebut, nanti lima hari kita tutup. Kelas lain enggak ada masalah. Mereka negatif semua," ujarnya Rabu (26/1).
Meski ada temuan kasus Covid-19 di SMAN 8, saat ini PTM di sekolah lain masih tetap dilakukan seperti biasa. Didik mengingatkan, adanya kasus positif Covid-19 di sekolah harus bisa menjadi warning atau peringatan bagi seluruh elemen untuk mengambil kebijakan PTM.
Didik menyebut protokol kesehatan Covid-19 harus terus diterapkan sambil menunggu evaluasi dan perkembangan selanjutnya. "Saat ini masih 100 persen kecuali SMAN 8, (ada) dua kelas itu di PJJ kan dulu. Sambil mengikuti perkembangan lebih lanjut. Tentunya kami evaluasi, barusan saya pastikan prokes (protokol kesehatan)," jelasnya.
Didik menyebut awal mula penularan diketahui dari seorang siswa yang tidak masuk sejak 18 Januari 2022 karena sakit dan melakukan tes antigen dinyatakan positif Covid-19. Setelah dilakukan tracing menyeluruh ditemukan seorang anak kelas X yang juga terpapar. "Sejak 18 (Januari) tidak masuk, kemudian di sekolah dilakukan semacam screening untuk semua siswa dan itu ditemukan. Pertama di seluruh kelas di mana anak yang tidak masuk, ternyata semua tidak ada yang positif hanya anak itu yang positif ya,'' jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ Kadarmanta Baskara Aji mendorong dinas pendidikan kabupaten dn kota di DIJ serta sekolah-sekolah agar melakukan evaluasi. Juga melakukan penyesuaian ihwal PTM seiring dengan terjadinya beberapa penularan yang terjadi di sekolah."Kepada sekolah juga dengan kabupaten dan kota maupun Dinas Pendidikan DIJ untuk mengevaluasi, melakukan beberapa penyesuaian karena kasus ini meningkat, ada beberapa kasus di sekolah," ujarnya.
PTM dalam kondisi ada penularan dapat disesuaikan dengan dilakukan pengurangan baik jam belajar maupun kapasitas. Hal ini agar menekan penularan Covid-19 di sekolah."Maka kalau perlu jangan full dulu, kan bisa 50 persen dulu, 70 persen dulu, waktu tatap muka maupun jumlahnya," imbuh mantan Kepala Disdikpora DIJ itu.
Aji juga mengimbau kepada seluruh warga masyarakat agar tetap melakukan protokol kesehatan Covid-19 mengingat terjadi penambahan kasus akhir-akhir ini dan terdapat indikasi varian Omicorn di Jogja yang saat ini sedang dilakukan pengecekan. "Kemarin kami indikasikan ada tapi hasil belum keluar, termasuk bagian yang membuat kita hati-hati karena kalau betul Omicorn penularan lebih cepat. Makanya tatap muka anak-anak harus kita lebih tertib lagi," jelas Aji.
Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi juga mengakui, kasus terkonfirmasi positif memingkat di kota. Sebagian besar kasus yang muncul berasal dari hasil skrining yang dilakukan. "Kalau dilihat grafik dalam sepekan memang bergeraknya naik. Karena memang sekarang tingkat mobilitas di Jogja sudah begitu tinggi," katanya.
Pada pekan lalu kasus aktif di Kota Jogja tercatat ada tujuh kasus dan selalu bertahan di bawah 10 kasus. Sementara, dalam sepekan terakhir ini hampir setiap hari ditemukan kasus baru hingga akumulasi kasus aktif tercatat sebanyak 32 kasus. Meski ada peningkatan, namun jumlahnya masih terbilang terkendali. Dan tidak tidak ditemukan sebaran yang meluas. "Paling banyak kenaikan ditemukan dari skrining rumah sakit, karena pasien yang akan tindakan medis kan harus dites dulu ternyata hasilnya positif," ujarnya.
Selain itu ada pula wisatawan yang hendak melanjutkan perjalanan kemudian melakukan skrining ternyata hasilnya positif Covid-19. Semua temuan kasus positif itu pun dilakukan tracing kontak erat, tetapi tidak ditemukan sebaran. "Kemudian memang ada juga dari skrining pembelajaran sekolah, jadi semuanya dari skrining kasus paling banyak. Kasus-kasus baru dari luar itu nggak banyak," jelasnya.
HP menyebut, sejauh ini belum menemukan indikasi kasus yang dicurigai sebagai varian Omicron. Menurutnya, ciri-ciri daripada sebaran Omicron ialah ketika ada sebaran kontak erat dalam jumlah banyak. Sekalipun belum memperoleh hasil metode Whole Genome Sequencing (WGS) pemeriksaan untuk mendeteksi varian Omicron.
Namun, Pemkot Jogja tetap berupaya manakala terjadi sebaran yang begitu cepat dan terjadi lonjakan tinggi di Jogja. Koordinasi dengan pihak rumah sakit terus terjalin baik untuk penyediaan 30 persen kapasitas bed khususnya pasien Covid-19. Begitu pula selter isolasi yang ada di Tegalrejo sewaktu-waktu bisa difungsikan. Meski, saat ini tidak ada pasien selter tersebut masih berstatus aktif. Sedangkan selter Gemawang diistirahatkan sementara, pun siaga jika diperlukan. "Tapi harapan kami jangan sampai terjadi lonjakan," imbuhnya. (cr4/wia/pra)
Editor : Editor Content