Seorang siswa SMP Negeri 2 Jogja, Romeo Yusup Nur Iman mengaku sedikit kecewa dengan kondisi saat ini. Kekhawatiran muncul tidak bisa mengikuti mata pelajaran yang disukainya itu dengan maksimal. Sebab, sekolahnya selama ini masih memanfaatkan lapangan Alun-alun Utara untuk melaksanakan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. "Dulu setiap olahraga selalu keluar ke alun-alun, karena kami kurang fasilitas lapangan untuk olahraga," kata siswa kelas IX ditemui koran ini di sekolah kemarin (24/1).
Alun-alun Utara memang ditutup untuk umum atau keperluan pariwisata. Tetapi setidaknya, Romeo berharap pihak terkait tetap membuka akses bagi sekolah untuk keperluan pendidikan. Khususnya bagi sekolah yang minim fasilitas lapangan. "Kalau sekarang misalnya mau praktik sepakbola, voli, badminton, kasti, lari-lari dengan lapangan seukuran ini agak susah," tandasnya seraya menyambut antusias PTM 100 persen ini.
Sekalipun, memang tidak dibuka untuk keperluan pendidikan sekolah, harapannya pihak Keraton dapat membuatkan lahan baru khusus fasilitas lapangan bagi para siswa. ”Agar tetap bisa menjalankan pendidikan olahraga secara maksimal,” harapnya.
Sementara, Kepala SMP Negeri 2 Jogja, Widayat Umar mengatakan ditutupnya akses ke Alun-alun Utara menjadi kendalanya selaras dengan PTM 100 persen ini. Sebab, sekolah yang berada di kawasan TKP Senopati itu tidak memiliki lahan lagi, terlebih untuk keperluan pendidikan olahraga. "Tidak ada solusi anak-anak kami bagaimana olahraganya," katanya.
Menurutnya, materi olahraga menjadi materi penting untuk pengembangan fisik, keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif. Terlebih bagi usia-usia perkembangan seperti siswa SMP. "Kalau hanya teori terus kan kasihan, mereka harus ada refresh juga,” jelasnya.
Menurutnya lapangan itu bisa dibuka aksesnya saat jam-jam pelajaran olahraga yakni antara pukul 07.00 sampai maksimal pukul 12.00. Kondisi ini diklaim akan menghambat proses KBM sekolah jika tidak dibuka. Sejauh ini, sudah berkoordinasi ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Jogja untuk mendesak harus segera ada solusi terkait hal ini. "Ada gambaran suruh memakai Alkid (Alun-alun Kidul), ini kami kejauhan nanti habis waktunya untuk ke sana,” ujarnya.
Sementara waktu, pihak sekolah akan melakukan praktik olahraga dengan cabang terbatas yang bisa dilakukan di dalam kawasan sekolah. Seperti yang menggunakan matras. Cabang senam pun bisa dilakukan meski juga terbatas karena bisa mengganggu KBM kelas lain. "Kalau sepak bola, lari-larian, voli jelas nggak bisa ya,” jelasnya.
Guru Olahraga SMP Maria Immaculata Marsudirini Jogja, Sunu mengharapkan hal senada. Sekolah ini juga turut terdampak dengan penutupan akses Alun-Alun Utara. Meski sekolah ini sudah memiliki Gedung Olah Raga (GOR). Tetapi, cabang tertentu harus dilakukan di lapangan terbuka. Terlebih, sebelum pandemi sekolah ini juga tak jarang memanfaatkan lapangan itu untuk KBM olahraga. "Diperlukan kalau lari jarak jauh mengitari alun-alun. Apalagi untuk penilaian ujian praktik susah ya karena tidak ada lapangan lagi," katanya.
Terpisah, Kepala Disdikpora Kota Jogja, Budi Santosa Asrori ketika dikonfirmasi kaitannya dengan pemanfaatan Alun-alun Utara sebagai fasilitas olahraga bagi sekolah di sekitarnya, selaku keluarga Keraton Ngayogyakarta, GKR Condrokirono tidak menyebutkan larangan untuk bisa mengakses lapangan tersebut. Hanya, ada satu persyaratannya. "Mungkin sekolah-sekolah itu bisa berkirim surat ke Keraton," jawabnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Seperti diketahui, Alun-alun Utara Jogja mulai dipasangi pagar mengelilingi lapangan rumput pada awal pandemi Covid-19 lalu. Tepatnya Juli 2020. Menggunakan anggaran dana keistimewaan sebesar Rp 2,3 miliar. (wia/bah) Editor : Editor Content