Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Persoalan Klithih, Cari Solusi, Bukan Redefinisi

Editor Content • Rabu, 5 Januari 2022 | 22:10 WIB
GERAK CEPAT : Polsek Danurejan berhasil membekuk S, sosok pelaku penganiayaan yang terjadi di kawasan Lempuyangan, Sabtu dini hari (1/1).  (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
GERAK CEPAT : Polsek Danurejan berhasil membekuk S, sosok pelaku penganiayaan yang terjadi di kawasan Lempuyangan, Sabtu dini hari (1/1). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kalangan legislator di DPRD DIJ mendesak Pemprov DIJ dan aparat terkait fokus mencari solusi mencegah klithih. Dibanding melakukan redefinisi klithih. Hanya dengan melakukan redefinisi klithih tak membuat aksi kekerasan di jalanan hilang.

"Mau pakai istilah klithih atau lainnya, bukan itu persoalannya, tapi ini ada tindak kekerasan, ada korban, apa solusinya" kata anggota DPRD DIJ Lilik Syaiful Ahmad ditemui di DPRD DIJ, kemarin (4/1). Hal itu menanggapi statement Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji yang justru lebih menyoroti penggunaan kata klithih dibanding upaya pencegahannya.

“Isitilah klitih tidak tepat, pembacokan ya pembacokan yang pengeroyokan ya pengeroyokan ya, agar bisa dipilah. Mungkin perlu lakukan pelurusan, waktu lihat catatan di kepolisian adanya pelaku kekerasan, pelaku penganiayaan, pelaku pengeroyokan, pembawa senjata tajam. Tanya tentang klitih tidak ada istilah itu di urusan hukum,” kata Aji di Kepatihan, Senin (4/1).

Hal yang sama juga diungkapkan Kapolsek Danurejan Kompol Wiwik Hari Tulasemi yang menyebut, klithih identik dengan penganiayaan langsung. “Kalau kasus klithih terjadi itu ketika ada seorang membawa sajam langsung membacok kalau ini tidak. Ini sempat beradu mulut atau cek-cok ya bahkan mengeluarkan kata-kata kotor,” ujarnya saat pengungkapan kasus di Polsek Danurejan, Senin (4/1).

Lilik menengarai, upaya redefinisi klithih yang dilakukan saat ini sebagai upaya preemtif untuk mengampanyekan DIJ yang aman dan nyaman. Terutama kampaye di bidang pariwisata. Hal yang disebutnya memang harus dilakukan untuk tetap menjaga DIJ sebagai destinasi wisata. "Tapi jangan malah mengaburkan ancaman klithih yang nyata, korbannya jelas ada," ungkap politisi Partai Golkar tersebut.

Menurut legislator dari dapil Kulonprogo itu, yang perlu dilakukan saat ini ada upaya pencegahan dari hulu. Apalagi aksi klithih sudah terjadi beberapa tahun terakhir tapi belum juga ada solusinya. Di antaranya terkait pelaku yang mayoritas masih di bawah umur. Upaya pencegahan apa, tanya dia, yang sudah dilakukan Pemprov DIJ maupun pemkab dan pemkot pada anak-anak tersebut. Selama ini, kata dia, yang terdengar baru upaya rehabilitasi pelaku yang masih di bawah umur. "Wacana aktifkan Prayuwana hingga konseling kan untuk pelaku, tapi pencegahan yang belum (jadi pelaku klithih) itu apa," katanya setengah bertanya.

Sebagai solusi dia menyarankan, kerja sama semua kalangan masyarakat. Diakui Lilik, untuk penyelesaian klithih tak bisa hanya mengandalkan kepolisian saja. Karena polisi hanya bisa bertindak jika sudah ada kejadian. Karena itu dia menyebut, peran keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan harus bersama-sama membina jiwa-jiwa muda di DIJ. Sebelum mereka terjerumus jadi klithih. “Seperti untuk kegiatan malam hari para anak-anak itu menjadi atensi semua pihak bukan hanya aparat keamanan saja,” ungkap mantan Ketua HIPMI DIJ itu. (pra) Editor : Editor Content
#ANGGOTA DPRD DIJ #Jogja Darurat Klithih