Pembajoen memaparkan target sasaran vaksinasi anak dibawah 12 tahun mencapai 303 ribu anak. Data ini merupakan penghitungan dari pemerintah pusat. Walau begitu pihaknya tetap melakukan pendataan ulang. Guna mendapatkan data terkini.
“Kalau data sasaran dari (pemerintah) pusat itu 303 ribu, sementara stok yang kami punya 775 ribu dosis. Kalau dua kali suntik berarti butuih 600 ribu dosis. Itu Sinovac dan Coronavac Sinovac,” jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Rabu (15/12).
Pembajoen memastikan pendataan akan masih terus berlangsung. Untuk saat ini mengacu pada data milik Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIJ. Tercatat ada sebanyak 264 ribu anak usia 6 tahun hingga 11 tahun. Rentang usia ini adalah berstatus siswa Sekolah Dasar.
Terkait perbedaaan data dengan pemerintah pusat, Pembajoen tidak mempermasalahkan. Selisih, lanjutnya, bisa muncul karena belum ada pembaruan data. Salah satunya adalah siswa yang sudah memasuki usia 12 tahun tapi masih terdata.
"Data milik Disdikpora bisa dibilang lebih akurat karena real. Bisa terjadi karena hal yang 12 tahun atau di bawah itu memang mungkin sudah tidak masuk kategori,” katanya.
Dinkes DIJ, lanjutnya, akan melaksanakan Kick Off Vaksinasi anak 6 tahun hingga 11 tahun akhir pekan, Sabtu (18/12). Lokasinya berada di Wana Bhakti Yasa Amongrogo, Kota Jogja. Sasaran dalam vaksinasi awal mencapai 1.000 anak.
“Kalau setelahnya mungkin bisa di sekolah masing-masing. Harapan kami dengan teman-teman tetap di push, kalau libur ya diundang di sekolah satu kelas, satu kelas," ujarnya.
Kepala Disdikpora DIJ Didik Wardaya membenarkan data siswa penerima vaksin mencapai kisaran 264 ribu. Calon penerima vaksin Covid-19 ini adalah siswa dengan rentang usia 6 tahun hingga 11 tahun. Sementara total siswa tingkat Sekolah Dasar di Jogjakarta mencapai kisaran 277 ribu.
Adanya selisih karena siswa kelas 6 SD yang berusia 12 tahun masuk dalam hitungan. Dalam rentang jenjang kelas 6 SD yang sudah menerima vaksin antara 11 ribu hingga 13 ribu siswa. Sehinggga tugas Disdikpora DIj untuk mengakomodir sisanya yang belumn tervaksin.
“Tetap koordinasi dengan kabupaten dan kota karena SD kan wewenangnya disana. Kalau lokasi penyuntikan kami ikut saja. Kalau di sekolah tidak masalah malah memudahkan,” katanya.
Lingkungan sekolah menurutnya justru lebih siap. Ini karena penyuntikan vaksin bukanlah hal yang baru. Dalam agenda-agenda sebelumnya, penyuntikan vaksin juga berlangsung di setiap sekolah.
“Sebelum ada Covid-19, vaksinasi lainnya itu juga sudah di sekolah. Seperti vaksinasi rubela itu juga di sekolah. Intinya kami siap,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News