Haedar mengimbau agar liburan diisi dengan aktivitas yang lebih aman dan sehat. Dalam artian tidak menimbulkan atau mendatangi kerumunan manusia. Langkah ini sebagai wujud patuh akan penerapan protokol kesehatan Covid-19.
“Sampai bulan Desember lalu tahun baru ini hari yang rawan, dimana masyarakat kegiatan berlibur. Maka mohon betul kepada masyarakat untuk jangan larut ikut liburan, kemudian menjadi melanggar protokol yang berlaku,” pesannya ditemui di Kantor PP Muhammadiyah, Gondokusuman Kota Jogja, Selasa (16/11).
Dia memahami bahwa budaya srawung masih melekat di masyarakat. Saling berkunjung untuk bersosialiasi setiap waktu. Hanya saja adanya pandemi Covid-19 membuat kondisi menjadi rawan.
Silaturahmi bisa terlaksana tanpa harus saling berkunjung. Baik melalui aplikasi percakapan jarah jauh maupun sambungan telepon. Setidaknya langkah ini dapat mengantisipasi penularan Covid-19 kepada keluarga.
“Ada atau tidak larangan pemerintah Desember dan tahun baru, semoga warga bangsa membangun kesadaran baru. Kami paham masyarakat kita ini komunal, senang kumpul dan bertemu, tapi setidaknya tunggu sampai kondisi menjadi lebih baik,” katanya.
Diketahui, sebelumnya Pemerintah Pusat telah menghapuskan libur cuti bersama natal dan tahun baru. Pertimbangan utama adalah potensi munculnya lonjakan kasus Covid-19 setelah libur panjang. Kondisi tersebut pernah terjadi pada awal dan pertengahan 2021.
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian, prihatin dulu agar menjadi lebih baik,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News